Tak Perlu Kaget Yusril Dukung Jokowi

Awal pekan ini membawa kabar mengejutkan. Yusril Ihza Mahendra menyatakan dirinya resmi menjadi pengacara pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin. "Saya memutuskan untuk setuju dan menjadi lawyer-nya kedua beliau itu," kata Yusril di Jakarta, Senin (5/11).

Dianggap mengejutkan karena Yusril adalah Ketua Umum Partai Bulan Bintang. Pada Pilpres 2014, PBB mendukung Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Secara mazhab keislaman pun, PBB punya akar Islam murni yang memang banyak berhimpun di kubu Prabowo.

Namun merapatnya Yusril ke Jokowi menjadi kabar yang menghentak karena selama ini getol membela Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Pun belum ada kabar Yusril mengundurkan diri dari posisi sebagai pengacara HTI. 

Bukan itu saja, banyak anggota Front Pembela Islam dan mantan kader HTI menyalurkan aspirasi politiknya di PBB. Bahkan menjadi caleg dari partai ini. Salah satunya adalah juru bicara FPI, Novel Bamukmin.

Namun, bila kita ikuti perjalanan PBB setahun terakhir, seharusnya tak perlu sekaget itu. Sinyal-sinyal Yusril membawa PBB merapat ke Jokowi sebetulnya sudah sering dilontarkan mantan Menteri Sekretaris Negara era Presiden Abdurrahman Wahid ini.

Pada awal September silam, misalnya. Yusril mengatakan, PBB dalam waktu dekat akan merapat ke Koalisi Indonesia Kerja Jokowi-Ma’ruf. “Dalam waktu dekat ini saya sudah direncanakan akan bertemu dengan Pak Jokowi. Paling di bulan September ini. Jadi sudah ada yang mengatur,” kata Yusril seperti dikutip Republika.co.id.

Sikap ini dipicu abainya Koalisi Indonesia Adil Makmur merangkul PBB. Setidaknya, demikian pengakuan Yusril pada pertengahan Agustus lalu. “Berkali-kali Sekjen dan fungsionaris DPP PBB menghubungi Gerindra dan PAN mengenai koalisi yang digagas Habib Rizieq itu, tetapi tidak ada respons sama sekali,” kata Yusril.

Belakangan, koalisi keumatan yang diusung Persaudaraan Alumni 212 untuk mendukung capres Prabowo tetap mengikutkan nama PBB dalam gerakan mereka. Meradanglah Yusril. “Partai Bulan Bintang (PBB) tidak pernah terlibat di sana (koalisi keumatan), bahkan kita komplain nama kita dibawa-bawa tanpa pernah diajak bicara," tulis Yusril di akun resmi instagramnya.

Selain itu, Yusril juga punya sedikit penyesalan, kalau bukan dendam. Menurut pakar tata negara ini, PBB selalu membantu Gerindra dalam berbagai kesempatan. Tapi apa balasannya? Bahkan, menurut Yusril, Gerindra, PKS, maupun PAN tak membantu ketika PBB nyaris tak ikut Pemilu 2019.

"Apakah ada sekadar salam menunjukkan simpati kepada kita ? Baik Gerindra, maupun PKS, PAN yang disebut Koalisi Keumatan itu tidak pernah ada," tegas Yusril.

Memang secara ideologi, PBB punya kedekatan yang lebih pada koalisi keumatan. Kultur akar rumput PBB juga cocok dengan koalisi keumatan. Begitu pula secara historis.

Tapi kecocokan ideologi, visi, ataupun misi, butuh perekat, yaitu “kebersamaan.” Dalam pandangan Yusril, semangat kebersamaan itu tak ada di koalisi keumatan. “Koalisi keumatan itu hanya fatamorgana yang tidak pernah ada di alam nyata,” ucap Yusril.

Ada pula sebenarnya faktor internal yang membuat Yusril semakin terdesak untuk bersikap realistis dan mendukung Jokowi. Salah satunya, Yusril didaulat mengembalikan PBB ke parlemen sejak absen sejak satu dekade silam. Sedangkan Pemilu 2019 adalah kesempatan terakhir, sesuai janjinya. Kalau gagal lagi, bakal banyak yang menuntut Yusril mundur.

Untuk faktor lainnya, ada yang mau menambahkan? Silakan corat-coret di kolom komentar ya.

Bagaimana Menurutmu?

Tanggapan pendukung

Anonymous wrote: Politik modern sejatinya merupakan taktik.
14-02-2019, 15:44
Anonymous wrote: langakah yang cerds untuk mendongkrak elektabilis partanya
02-01-2019, 13:55