Sara, Asal Kamu Rela Aja dengan Keluarga Besarnya

Nama: Rahayu Saraswati
Dapil: DKI Jakarta III (Jakarta Barat, Jakarta Utara, dan Kepulauan Seribu)
Partai: Gerindra

Mendengar nama Rahayu Saraswati besar kemungkinan tak akan banyak yang ngeh. Pun setelah Rahayu memerankan gadis desa bernama Senja di film trilogi "Merah Putih," namanya tetap saja gak populer.

Tapi kalau bicara penyebar video joget calon presiden Prabowo Subianto di acara Natalan keluarga, pasti banyak yang langsung ngeh. Benar. Rahayu adalah keponakan Prabowo yang menyebarkan video Capres 02 yang terlihat riang gembira memperingati Natal. Hanya saja, dalam pemberitaan Rahayu lebih sering disebut, Sara.

Setelah kami cek, ternyata Sara bukan orang baru di politik. Ia tercatat sebagai anggota DPR RI periode 2014-2019. Tahun ini, Sara kembali mencalonkan diri untuk daerah pilihan DKI Jakarta III, meliputi Jakarta Barat, Jakarta Utara, dan Kepulauan Seribu.

Buat yang selama ini mengikuti Unboxing Caleg pasti maklum bahwa kami alergi dengan dinasti politik. Karena kami gak mau Indonesia lambat laun menjadi negara oligarki. Jadi bisa ditebak, kesimpulan review Sara di sini tak akan bagus-bagus amat apalagi sempurna.

Tapi ya selama konstitusi kita masih mengizinkan politik dinasti, dan kamu juga sudah kadung cinta dengan keluarga Capres 02, setidaknya unboxing ini bisa dijadikan pembenaran kenapa kalian milih dia. Sebaliknya, buat yang sudah males dengan keluarga Prabowo, kalian bisa mengklaim menolak Sara bukan karena benci buta semata.

Yuk mulai.

What's in The Box

Rahayu Saraswati Dhirakanya Djojohadikusumo. Demikian nama lengkap Sara yang lahir di Jakarta, 27 Januari 1986. Seperti tersurat dari nama belakangnya, Sara adalah anak kedua Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Hashim Djojohadikusumo. Buat yang masih belum ngeh siapa Hashim, beliau adalah adik kandung Capres Prabowo Subianto.

Sejak masuk masa SMA pada 2003, Sara sudah sekolah di luar negeri. Tepatnya di College Du leman, Swiss. Lanjut ke jenjang S1, kali ini Sara memilih Amerika Serikat. Di Negeri Uwak Sam, Sara mengambil Fakultas Seni jurusan Seni Peran, Universitas Virginia. Lulus dari sana, Sara melanjutkan studi ke International School of Screen Acting, London, Inggris, pada 2007.

Enak ya jadi Sara. Sekolah aja berasa liburan keliling dunia.

Selesai travelling, eh studi di luar negeri, Sara kembali ke Tanah Air dan mempraktikkan ilmu yang didapatnya dengan aktif di dunia peran. Film perdananya adalah trilogi "Merah Putih." 

Kenapa Sara bisa mendapat peran di film ini? Bahkan di final trilogi "Hati Merdeka" Sara dipercaya sebagai associate producer. Untuk menjawabnya sulit untuk tidak curiga ada campur tangan keluarga. Karena film ini diproduksi Media Desa Indonesia milik sang bokap bersama rumah produksi Margate House.

Ngiri? Makanya jangan jadi rakyat misqueen.

Trilogi "Merah Putih" memang tak semeledak film "Dilan" atau "Warkop Reborn." Tapi tak bisa dimungkiri, kepopuleran Sara mulai merangkak setelah film ini tayang. Setelah trilogi film "Merah Putih," Sara terlibat lagi di dua film "Dream Obama" dan "Gunung Emas Almayer."

Sara juga mulai tampil di layar kaca dengan menjadi co-host sebuah program talkshow di televisi, bersama host utama seperti Dalton Tanonaka dan Wimar Witoelar.

Jadi artis udah. Presenter udah. Sara pun mulai melirik dunia politik. Posisinya sebagai pesohor pendatang baru, tentu modal lebih dibandingkan caleg "orang biasa."

Ditambah lagi dukungan keluarga besar yang bukan saja sama-sama sudah terjun ke politik. Tapi mereka mendirikan partai politik, Gerindra. Seperti kita ketahui, Gerindra juga bukan sembarang parpol. Apalagi partai nol koma. Di 2014, partai ini memperoleh suara tertinggi ketiga. Cuma kalah dari PDIP dan Golkar. Partai Demokrat atau PKS mah lewat.

Tapi punya bapak dan paman yang petinggi Partai Gerindra tak membuat Sara langsung menduduki posisi penting di partai tersebut. Sara memulai karier politiknya di Tunas Indonesia Raya (Tidar), organisasi sayap Partai Gerindra, sebagai kepala bidang pengembangan. Belakangan Sara menduduki jabatan Ketua Bidang Advokasi Perempuan Gerindra.

Pada 2014, Sara maju sebagai caleg DPR RI untuk dapil Jawa Tengah IV. Sara lolos dan ditempatkan di Komisi VIII membidangi Agama, Sosial, Pemberdayaan Perempuan. Salah satu produk undang-undang yang sedang diperjuangkan Sara dan kawan-kawan di Komisi VIII adalah RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS).

Pros

Jujur, kami menemukan banyak rekam jejak yang bagus dari Sara di internet. Di urusan kekerasan seksual tadi misalnya. Sara kerap berbicara di publik mensosialisasikan RUU PKS dan terus mendorong pengesahannya. Termasuk menghubungi Maimon Herawati, seorang dosen universitas negeri di Bandung, Jawa Barat, yang getol menolak pengesahan RUU PKS.

Sara juga terkenal vokal terhadap isu-isu human trafficking. Bahkan Sara mendirikan Yayasan Parinama Astha sebagai wadah untuk memerangi kejahatan penyeludupan manusia. Melalui yayasan ini, Sara mengajak publik berdonasi, menggelar event, hingga bagi-bagi video di YouTube untuk mengkampanyekan anti-human trafficking.

Oh iya, nama Sara juga sempat ramai diperbincangkan saat disebut-sebut bakal mengisi kursi wakil gubernur DKI Jakarta menggantikan Sandiaga Uno. Namanya diusulkan oleh Tidar dan Gerakan Kristen Indonesia Raya (Gekira), sebagai alternatif Mohamad Taufik, yang diusulkan pengurus Dewan Pimpinan Daerah DKI Gerindra.

Cons

Yang paling tidak kami suka dari Sara adalah fakta bahwa dia berasal dari keluarga besar Prabowo. Bukan faktor Prabowo-nya tentu. Tapi ekses politik dinastinya itu. Kalau ini terus-terusan dibiarkan, Indonesia memang bisa menjadi oligarki.

Bayangkan. Kita sudah "punya" dinasti Susilo Bambang Yudhoyono di Partai Demokrat. Amien Rais di PAN, yang pemilu tahun ini menyodorkan keempat anaknya ke parlemen berbagai tingkatan. Trah Soekarno di PDIP sudah gak perlu dibahas lagi. Begitu juga partai-partai kemarin sore seperti Perindo yang didirikan dan dikuasai klan Tanoesodibjo, serta Partai Berkarya yang menjadi perahu comeback-nya keluarga Cendana ke pentas politik.

Nantinya, kekuasaan ya berputar-putar di kelompok keluarga itu-itu saja. Buat Sara, keluarga adalah fasilitas politik yang luar biasa. Tapi dari kacamata kami, keluarga besarlah kartu mati Sara.

Klan Djojohadikusumo juga gak bersih-bersih amat. Kakek Sara, Soemitro Djojohadikusumo sempat diisukan korupsi saat menjabat Menteri Keuangan (Kabinet Burhanuddin Harahap) pada era Presiden Soekarno. Saat pemeriksaan kasus korupsi berlangsung, Soemitro malah kabur ke luar negeri hingga baru (berani?) pulang saat kekuasaan Soekarno berakhir.

Begitu pula sang paman, Prabowo. Kasus penculikan aktivis masih dihubung-hubungkan dengan Prabowo yang kala itu menjabat sebagai Danjen Kopassus TNI. Walaupun dengan majunya Prabowo di pilpres (ketiga kalinya), kami asumsikan kasus tersebut sudah ditutup. Atau gimana sih? Coba yang ahli hukum dan sejarah bisa share pengetahuannya soal ini.

Lalu belum lama ini, sepupu jauh Sara bernama Ramyadhie Priambodo juga terciduk polisi atas kasus pembobolan ATM. Alamak. Ramyadhie sendiri adalah bendahara Tidar. Belakangan, Sara mengklarifikasi bahwa Ramyadhie sudah keluar dari keanggotaan Tidar sejak 2016.

Duh. Padahal kita beneran melihat kualitas yang oke loh dari Sara.

Conclusion

Sara bagus. Berkualitas. Walau tidak berlatar pendidikan yang sesuai, Sara terlihat mampu beradaptasi dengan baik di dunia politik.

Soal video Prabowo joget di acara Natalan keluarga yang disebarkan Sara, menurut kami tak ada yang salah. Kristen masih diakui sebagai agama di Indonesia bukan? Kalau keislaman Prabowo yang dipermasalahkan, memang siapa kita bisa menilai keimanan seseorang?

Usianya yang masih muda juga kami sukai. Oke banget deh ni caleg petahana. Terutama jika kamu rela mengenyampingkan rekam jejak kelam keluarga besarnya itu.

Kalau buat kami sih itu faktor yang sangat berpengaruh.

***

Penilaian dalam unboxing ini berdasarkan hasil penelusuran Tim TR dari berbagai sumber. Kalau kamu punya informasi lebih yang belum kami sebutkan, tulis di kolom komentar sebelah kanan. Nanti tulisan akan kami update. Sebagai penghormatan, tentu saja nama kamu akan kami tulis sebagai narasumber. Setelah itu kamu boleh loh banggain kontribusimu dengan share tulisan ini di sosmed kamu. Biar teman kamu juga gak bingung lagi apa yang harus mereka pilih. Yuk saling bantu jadi pemilih cerdas.

Baca Unboxing Caleg lainnya:

Chicha Koeswoyo, Kembalinya si Helli

Setuju Dengan Ulasan Kami? Yuk, diskusi di sini.

Tanggapan pendukung

Tita Rizqiyah wrote: Prabowo menculik aktivis itu sumber dari mana ya ? Negara AS kah? Menurut saya lebih baik telaah dulu sejarahnya baru kita sama2 mencocokkan kembali apakah benar isu tersebut..
24-04-2019, 11:03
asih annas wrote: kualitasnya bagus sih, tapi ...
17-04-2019, 14:04
saliha anindita wrote: wah seumuran gw nih
17-04-2019, 10:27
fauzia agusti wrote: programnya dia apa aja?
17-04-2019, 10:26
dara aurealia wrote: hmm.. politik dinasti
17-04-2019, 08:42
permata farishy wrote: rezim lingkaran?
17-04-2019, 06:37
reiner william wrote: iya nih, jejak keluarganya belum tentu juga membuat mbak nya seperti begitu
17-04-2019, 01:55
achmad suher wrote: wah gila juga yah perjalananan menempa ilmu mbak sara
17-04-2019, 01:55
Iyay Yan wrote: Hahaha.. Keluarga besarnyaaa.. Tapi sepertinya sama kyak caleg lainnya.. Jangan terpengaruh juga sama kepopulerannya.. Banyak kan tuh yang dari artis jadi caleg..
16-04-2019, 18:54
intan permata wrote: Sepertinya, bukan cuma Mbak Rahayu aja deh. Banyak lagi kan yang keluarga besarnya jadi wakil rakyat.
14-04-2019, 22:16
hendra chandra wrote: semoga keluarga besarnya ga berpengaruh ke keputusan yang nanti diambil
14-04-2019, 21:30
dini purnama wrote: Menurut aku sih rekam jejak keluarga harusnya ga jadi masalah kalo emang punya niat beneran buat nyaleg
13-04-2019, 23:06