Politik “Kulit Mulus” Lindsey Afsari Puteri

Nama: Lindsey Afsari Puteri

Dapil: Jakarta III (Jakarta Barat, Jakarta Utara, dan Kep. Seribu)

Partai: Golkar

“Kebaikan itu Menular.” Demikian tertulis di sebuah poster yang didominasi warna kuning. Sosok seorang perempuan berjilbab dengan blazer kuning juga menjadi bagian paling dominan dalam poster tersebut. Di sudut lain tertulis sebuah nama; Lindsey Afsari Puteri. Semua tertata rapi; tulisannya mudah dibaca; dan kombinasi warna yang menarik.

Kalau saja ada lomba poster caleg, bisa jadi Lindsey salah satu pemenangnya. Terutama pada bagian tagline-nya tadi: kebaikan itu menular. Unik.

Maklum, biasanya tulisan di poster caleg kan tak jauh dari kata “melayani rakyat,” atau “bersama membangun negeri,” atau “jangan salah pilih,” dan sejenisnya. Klise-lah pokoknya. Membosankan. Persis hidup penulis saat tak kebagian job Unboxing TR.

Singkatnya, pilihan slogan mbak Lindsey ini oke loh. Sejak awal, kita tertarik untuk unboxing ya gara-gara untaian kata tersebut. Kami penasaran. Sudah cantik, pandai pula berkata-kata. Bisa jadi banyak hal menarik dari mpok cantik ini.

Coba kita buktikan yuk.

What’s in The Box

Salah satu tantangan unboxing bermodal swadaya seperti yang kami lakukan ini adalah mendapatkan data dan informasi yang memadai dari si caleg. Kadang lengkap, kadang seadanya. Dan kalaupun banyak, datanya berserakan di mana-mana. Yang kemudian harus kita kumpulkan, bersihkan (verifikasi), dan kita kurasi menjadi informasi yang berguna buat kita semua (capek gila).

Nah, beda dengan Lindsey ini. Caleg DPR RI untuk Dapil Jakarta III ini bahkan punya website sendiri (lindseyafsariputeri.com) yang berisi semua hal tentang Lindsey terkait pencalegan. Lumayan. Setidaknya memudahkan kita unboxing.

Dari informasi di situs tersebut, kelahiran Jakarta, 3 Maret 1979 ini ternyata meraup banyak jabatan. Di antaranya Direktur Utama PT. Kencana Usaha Makmur; Corporate Public Relations PT. Menara Prambanan; dan Advertising & Promotion Manager POINS Square Mall & Apartment.

Sementara pendidikan tinggi yang ditempuh adalah Teknik Sipil dan Ilmu Komunikasi jurusan Public Relations dan Marketing Komunikasi.

Melihat pekerjaan dan latar belakang pendidikan, pantas saja ya Lindsey berpromosi diri dengan gaya agak berbeda.

Masih dari sumber yang sama, Lindsey juga ternyata adalah host program religi bertajuk “Bengkel Akhlak” yang tayang di MNC TV. Entah dengan kalian yang punya banyak waktu nonton TV, kami yang sibuk bekerja membangun negeri belum pernah mendengar acara ini. Sayangnya, saat kami cek di Youtube pun, sedikit sekali rekaman acara tersebut dengan Lindsey di dalamnya. Jadi soal ini, kami tak bisa komentar banyak.

Di pemberitaan lain, kami menemukan bahwa Lindsey sudah 10 tahun terjun di politik. Artinya, sebelum ini Lindsey sudah dua kali mengikuti pemilihan legislatif (dan belum pernah menang). Pada Pileg sebelumnya, ibu dua anak ini berebut kursi DPR RI di Dapil Jawa Timur IV (Jember dan Lumajang). Ia berkilah kalah, karena dapil yang dipilih adalah dapil “neraka.” Whatever that means.

Update:

Berdasarkan informasi tambahan dari Uncle Sal, Lindsey adalah alumnus kampus reformasi Universitas Trisakti '98. Mungkin maksudnya saat 1998 Lindsey masih kuliah di sana dan ikut demo '98.

Uwak Sal juga menyiratkan, Lindsey sanggup bicara di depan ribuan orang. Kami memang menemukan rekaman video Lindsey di depan massa. Tapi di depan massa pendukung pemerintah dalam acara Parade Budaya Kita Indonesia. Bukan demonstrasi reformasi 20-an tahun silam itu.

Pros

Kita tak bisa mengatakan cara berpromosi Lindsey luar biasa. Karena di dunia advertising, yang dilakukan Lindsey standar saja. Tapi gaya “berbeda” dengan caleg kebanyakan ini, harus diakui cerdik, karena membuat Lindisey lumayan stand out in the crowd.

Tak cuma bikin slogan yang bagus, Lindsey terlihat memaksimalkan seluruh kanal media yang ada. Ada website personal seperti diceritakan tadi; sosial media (Facebook, Instagram, dan Twitter); dan bahkan pemberitaan media online.

Semua materi komunikasi terorkestrasi dengan sangat rapi. Tidak terlalu mengesankan, tapi setidaknya memudahkan masyarakat, terutama calon pemilih untuk mengetahui siapa Lindsey.

Update:

Sementara saat bicara di depan massa, Lindsey juga lebih cocok sebagai host event ketimbang orator politik. Bisa jadi karena memang acaranya bukan demonstrasi bertema "panas" dan "sensitif". Yang jelas karakter suara Lindsey lantang dan jernih dengan artikulasi yang baik.

Cons

Sayangnya, dengan strategi komunikasi yang selengkap dan serapi itu (dan tentu saja sangat terkontrol), menurut kami, Lindsey tak mampu menampilkan “isi” yang berbobot. Segala bombardir pesan hanya merupakan festival “kulit mulus” Lindsey.

Artikel-artikel di website pribadi Lindsey juga tak banyak membantu. Seperti pada artikel di mana Lindsey menjelaskan posisinya terkait kasus pelecehan seksual Baiq Nuril. Isinya hanya pernyataan-pernyataan pendek tentang posisi Lindsey terhadap kasus itu.

Padahal dengan media yang sepenuhnya dikontrol olehnya, Lindsey bisa menjelaskan panjang lebar tentang kasus Baiq Nuril. Pun sebaiknya tulisan tidak berbentuk artikel standar detik.com yang hanya mengutip secuil dua cuil pernyataan Lindsey. Kenapa tidak berbentuk tulisan opini? Sehingga lebih leluasa menegaskan posisi dan argumennya. Sehingga kami sebagai calon pemilih bisa menilai lebih jelas sebagus apa sih Lindsey ini.

Pun yang disampaikan Lindsey sebetulnya posisi yang aman-aman saja dengan menyatakan bahwa Baiq diperlakukan tidak adil. Lindsey tentu sadar angin opini publik sedang membela Baiq. Sehingga yang dilakukan Lindsey hanyalah jump in pada arus mainstream yang nyaman dan menenteramkan.

Tadinya, kami berpikir, mungkin Lindsey menganggap calon pemilihnya tak terbiasa membaca artikel panjang. Sehingga dia menahan diri untuk tidak berbusa-busa di setiap tulisan yang dibuat.

Tapi ternyata dugaan kami salah. Karena pada artikel lain, Lindsey menulis begitu panjang. Sayangnya yang diangkat bukan tema politik. Melainkan tentang parenting. Yaitu saat kedua anaknya bertengkar. Lindsey menjelaskan bagaimana cara menangani situasi tersebut dengan fasih dan tuntas tas tas.

Jadi, jangan salahkan bila kami tergoda menyimpulkan, Lindsey hanyalah seorang ibu yang baik. Bukan politisi.

Conclusion

Lindsey berhasil menarik perhatian kami pada pandangan… eh slogan pertama. Selebihnya? Hmm… tidak ada. Bak mengupas bawang bombay, yang kami temukan adalah lapisan demi lapisan kulit tanpa isi.

Sayang sekali, 10 tahun berpengalaman dalam politik ditambah keahlian berpromosi, tak membuat Lindsey jernih menjelaskan dirinya dengan baik.

Tentu saja, penilaian kami ini hanya berdasarkan materi kampanye dan pemberitaan tentang Lindsey di jagat internet. Kami tak tahu bagaimana sebetulnya Lindsey berkampanye secara langsung di masyarakat. Mungkin lebih baik.

Tapi berdasarkan apa yang kami temukan di internet, sebaiknya kita perpanjang lagi saja rekor kegagalan usaha Lindsey merebut kursi parlemen. Gak recommended.

Update:

Tulisan ini sempat direspons negatif oleh Lindsey dan kawan-kawannya. Bahkan Lindsey mengancam kami dengan somasi karena tak setuju dengan penilaian TR. Padahal bu, tinggal feed kita dengan data (bukan klaim doang), pasti kita update tulisannya.

***

Penilaian dalam unboxing ini berdasarkan hasil penelusuran Tim TR dari berbagai sumber. Kalau kamu punya informasi lebih yang belum kami sebutkan, tulis di kolom komentar sebelah kanan. Nanti tulisan akan kami update. Sebagai penghormatan, tentu saja nama kamu akan kami tulis sebagai narasumber. Setelah itu kamu boleh loh banggain kontribusimu dengan share tulisan ini di sosmed kamu. Biar teman kamu juga gak bingung lagi apa yang harus mereka pilih. Yuk saling bantu jadi pemilih cerdas.

Baca Unboxing Caleg lain:

Isyana Bagoes Oka, Ternyata Cucu Gedong

Tak Setuju dengan Ulasan Kami?

Tanggapan pendukung

Uncle Sal wrote: Tidak setuju dengan TR.. Faktanya lindsey lebih dari 10 tahun jadi kader golkar yang super matang. Lindsey juga alumni kampus pejuang reformasi, trisakti 96. Jangan salah menilai, tim TR juga ga tau gimana Lindsey berorasi di depan ribuan massa? Mengenai organisasi, baca ulang cvnya.. perdalam riset mengenai organisasi2 tsb.. Parlemen butuh perempuan berkualitas seperti lindsey, bukan yg cuma jadi media darling , gaduh ataupun penuh sensasi di internet.. salam kebaikan itu menular
14-03-2019, 18:16