Marlina, Melawan Stigma Perempuan

Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak banyak dipuji. Sinematografi yang puitik, akting yang apik, dan penggambaran latar alam Sumba yang eksotik, adalah beberapa aspek yang di highlight para kritikus serta penonton, sesaat setelah film ini tayang di bioskop Indonesia pertengahan 2018 silam.  

Namun apa itu saja keunggulan Marlina?

Tentu saja bukan! Marlina unggul karena tema pendobrakan atas tabu yang diusungnya. Saat film Indonesia kebanyakan masih bergelut pada tema-tema cinta, komedi slapstick, dan horror erotic, Marlina malah menawarkan satu perspektif yang segar: Kritik sosial terhadap sistem yang disebut patriarki.

Perempuan Bukan Makhluk Lemah!

Di babak pertama Marlina sudah mengajak kita untuk menyetujui bahwa perempuan bukanlah makhluk yang tempatnya hanya berada di ranah domestik. Bukan pula individu yang doyan membuat drama, demi untuk diakui oleh laki-laki dan komunitasnya.

Hal ini terlihat jelas saat Markus dan kawanan perampoknya datang ke rumah Marlina. Tidak ada sedikitpun histeria ketakutan dalam dirinya. Ia justru memilih melayani mereka untuk berbasa-basi, meski sudah tahu apa niatan mereka.

Pemberontakan Marlina mulai menggeliat saat salah satu kawan Markus memintanya memasak. Belum ada perubahan signifikan sampai titik ini, karena ia menuruti saja semua yang diperintahkan. Tapi saat di dapur dan mulai memasak, gejolaknya memuncak. Api yang menyala-nyala, menjadi simbol dirinya yang membara seiring ia terus menerus mendengar para lelaki tertawa di ruang tengah sambil merencanakan apa yang bakal mereka lakukan terhadapnya. Tidak hanya itu mereka pun berkelakar tentang siapa yang bakal mendapat giliran pertama, kedua, ketiga untuk menidurinya.

Marlina merasa tak tahan, amarahnya menuntut dimuntahkan. Marlina lalu mengambil ramuan untuk meracuni makanan. Singkat cerita, mereka mati teracuni tapi tersisa Markus, yang masuk kamar duluan karena mendapat “giliran pertama.” Masih dengan tujuan sama, Marlina membawa masakan beracun tersebut ke dalam kamar untuk membunuh Markus.

Bisa jadi tanpa ia perkirakan, Markus langsung memerkosanya. Dahaga kelamin mengalahkan perut yang lapar. Pada titik ini tak ada lagi yang dapat dilakukan Marlina selain membela kehormatan. Kalau cara halus tak bisa dilakukan, cara brutal tak dapat terelakkan. Ia memenggal kepala Markus tepat saat si rampok “melayang” karena orgasme.

Ruang tengah, kamar, dan dapur adalah simbol patriarki. Ruang tengah milik laki-laki sedangkan dapur adalah milik perempuan. Di ruang tengah laki-laki boleh melakukan apa saja, di dapur perempuan harus menurut apa pun yang diperintahkan (siapapun) yang berada di ruang tengah. Namun, oleh Marlina semuanya berupaya didobrak.

Di dapur ia justru mendapat kekuatannya untuk melawan kuasa ruang tengah. Di kamar tidur pun setali tiga uang. Tempat yang biasanya menempatkan perempuan sebagai objek seksual diubah oleh Marlina menjadi pengadilan terakhir bagi kuasa (laki-laki).

Di babak kedua, ketiga, setting film keluar dari rumah. Menuju ke alam sumba yang eksotis. Marlina berjalan membawa kepala Markus untuk dibawa ke kantor polisi dengan tujuan yang terkesan naif, “meminta keadilan.” Di tengah perjalanan ia bertemu wanita tangguh lain yang tak takut ia membawa kepala (laki-laki malah lari saat tahu Marlina membawa kepala). Lalu bertemu anak perempuan bernama Topan dan bersahabat dengan Novi, perempuan hamil yang menjadi korban kekerasan oleh suaminya.

Namun sesampai ke kantor polisi, betapa kecewa ia saat mengadu diperkosa tapi malah mendapat pertanyaan, “kok nggak melawan?” Marlina tidak berontak histeris, ia menjawab datar semua pertanyaan kemudian pulang. Adegan di kantor polisi ini adalah sentilan di mana perempuan yang menjadi korban pelecehan dan pemerkosaan cenderung dipersalahkan. Karena pertanyaan “kok gak melawan?” memiliki arti identik bahkan sama dengan “Kalau kamu melawan, hal ini gak bakal  terjadi?” Iya kan?

Akhirnya Marlina mengurungkan niat untuk memberikan kepala yang ia penggal ke polisi dan memilih membawanya kembali pulang.

Babak keempat, adegan nyaris sama dengan babak pertama. Marlina pulang membawa kepala Markus. Di rumahnya sudah menunggu salah satu kawan Markus yang hendak membalas dendam atas kematiannya. Lagi-lagi, Marlina coba diperkosa (dulu) sebelum akan dibunuh. Adegan selanjutnya cukup mudah ditebak, laki-laki ini pun terbunuh di kamar saat menyetubuhi Marlina.

Namun, kali ini bukan Marlina pembunuhnya. Melainkan Novi yang diajak Marlina “pulang” karena sudah tidak punya rumah: diusir suami dan sedang hamil besar. Novi datang dari dapur (lagi-lagi) membawa parang dan langsung menebas si pemerkosa.

Terkesan ada pembenaran pada babak pertama dan terakhir bahwa saat aparat hukum tak bisa membantu serta sistem tak mendukung, perempuan bisa melakukan vigilante (main hakim sendiri) atas ketidakadilan yang dialaminya. Namun bukan itu intinya. Sebab film, bagaimanapun juga adalah dunia kemungkinan yang sejatinya bertujuan menyentil kesadaran atas ketidakadilan, bukan sebagai medium propaganda atas sebuah kejadian riil di dunia nyata.

Dalam konteks Marlina, ia berupaya mendobrak stigma perempuan yang lemah di tengah dominasi laki-laki dan sistem sosial yang membelenggu. Bukan sebagai narasi untuk memperlihatkan kebencian dan pembenaran bahwa laki-laki yang seenaknya boleh dihakimi sesuka hati. Dan Marlina cukup berhasil menyajikan sebuah personifikasi perempuan kuat dan tangguh dalam gayanya sendiri, tentunya tanpa balutan histeria dan melankolia yang mengharu biru.

Sumber foto: Beritagar.id

Upaya Perempuan Melawan Stigma