Imam Fauzan Amir Uskara, Tak Ingin Dompleng Bapak padahal…

Nama: Imam Fauzan Amir Uskara

Dapil: Dapil Sulsel I

Partai: Partai Persatuan Pembangunan (PPP)

Teman-teman, unboxing kali ini istimewa karena caleg yang diulas atas request dari followers TR di sosial media. Jadi kalau kamu punya rekomendasi caleg yang ingin di-unboxing boleh lho kasih tahu tim TR. Gak cuma kasih nama. Ulasan kalian sendiri juga bisa dikirim sebagai bahan unboxing TR.

Unboxing kali ini kita akan membahas Imam Fauzan Amir Uskara, caleg DPRD Provinsi Sulawesi Selatan dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) untuk Dapil Makassar A atau Dapil I Sulsel yang meliputi Mariso, Tallo, Mamajang, Makassar, Ujung pandang, Wajo, Bontoala, Ujung Tanah, Sangkarrang, Rappocini, dan Tamalate.

Ada yang familiar dengan nama Amir Uskara? Kalau ya, kamu benar. Imam adalah anak kandung dari anggota DPR RI Amir Uskara yang juga menjabat Wakil Ketua Umum DPP PPP.

Tak heran, Imam pun maju menjadi caleg di bawah bendera PPP. Wah, mulai tercium bau-bau politik dinasti nih. Tapi mari kita tahan berkesimpulan terlalu dini. Kita kenalan lebih jauh dulu dengan Imam di unboxing TR.

What’s in The Box

Sebagai anak kandung dari Amir Uskara, bukan hal yang mengejutkan bila Imam melek politik. Peribahasa buah tidak jauh dari pohonnya relevan untuk menggambarkan posisi Imam saat ini. Tapi sebenarnya di luar itu semua tetap ada hal menarik yang tim TR temukan tentang pemuda asal Gowa, Sulsel ini.

Imam pernah menjabat Sekjen Persatuan Pelajar Indonesia Singapura (PPI Singapura) untuk periode 2017-2018. Di organisasi tersebut, Imam memimpin ribuan mahasiswa Indonesia dari berbagai latar belakang dan suku.

Program yang ia usung di sana cukup menarik. Yakni mempersiapkan tenaga kerja Indonesia (TKI) hidup mandiri melalui wirausaha pascapulang ke Tanah Air. Salah satu wujudnya, Imam berasama PPI Singapura mengadakan workshop wirausaha untuk para TKI di Singapura. 

Kebetulan ilmu yang sedang ia tekuni juga jurusan International Business Management di James Cook University, Singapura.

Kecakapan Imam berorganisasi tak dirintis dalam semalam. Setidaknya sejak bersekolah di SMA Negeri 2 Tinggimoncong, Gowa, Imam aktif menjadi pengurus OSIS.

Di bidang akademik, pun Imam bukan sembarang siswa. Kelahiran 28 September 1996 ini kerap mengikuti lomba fisika. Salah satu prestasi terbesarnya Imam mewakili Sulsel di ajang Olimpiade Sains Nasional di Bandung untuk mata pelajaran fisika pada 2013.

Saat ini, Imam juga sibuk mengurusi kedai kopi “The Coff” miliknya di Gowa. Selain itu, Imam juga tercatat sebagai pemilik PT Dirga Marga Sakti, sebuah creative house penyedia jasa reklame. Sementara dalam urusan politik, Imam didapuk menjadi Wakil Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Sulsel PPP.

Pros

Dalam berbagai kesempatan Imam berulang kali menegaskan ingin lepas dari bayang-bayang “kebesaran” sang ayah. Soal pencalegan, misalnya, Imam mengatakan, itu adalah murni dari keinginannya sendiri.

Untuk meyakinkan kita, Imam mengisahkan, bapaknya bahkan sempat melarang keras dirinya terjun ke politik praktis. Meskipun pada kenyataannya, Imam tetap melaju di pencalonan legislator (dari partai yang sama pula dengan sang bapak). Sayang, tim TR tidak menemukan cerita apa yang membuat Amir akhirnya luluh dengan keinginan anaknya tersebut.

Alih-alih, Imam sesumbar mampu melampaui kesuksesan ayahnya. “Saya paling hindari dipilih karena orang tua. Makanya saya memberanikan bertarung di dapil Makassar, karena saya mau tunjukkan kemampuan saya bagaimana maju dan terpilih insya Allah bukan karena faktor orang tua. Dan saya yakin bisa melampaui pencapaian bapak, biar nanti waktu nanti yang membuktikan,” tegas Imam seperti dikutip Fajaronline.co.id, baru-baru ini.

Untuk semangat dan optimismenya, ya bolehlah kita apresiasi. Namanya anak muda, ya harus terlihat penuh energi menyongsong masa depan, bukan? Bukan seperti bapak itu yang memprediksi 2030 Indonesia bubar.

Fakta sering tampil sebagai atlet lomba fisika juga pertanda yang baik kecerdasan dan ketekunan Imam. Hebatlah.

Cons

Semangat dan niat Imam untuk mandiri hebat sih. Menjadi diri sendiri adalah sikap terbaik yang bisa kita pilih sebagai manusia seutuhnya. Tapi sehebat semangatnya itu, kita juga melihat semacam paradoks (halah bahasanya) yang terlalu kentara pada diri Imam.

Di satu sisi Imam koar-koar ingin lepas dari bayang-bayang ayahnya. Tapi di berbagai atribut kampanye dan acara-acara publik, Imam sering kali memasang foto dirinya bersama sang ayah. Termasuk pada billboard di pusat Kota Makassar, yang belakangan dipermasalahkan karena dipasang di zona larangan kampanye.

Di satu sisi Imam dengan keras menyatakan tak ingin mendompleng nama besar sang ayah. Tapi di sisi lain, ia tetap menyematkan nama “Amir Uskara”  di belakang namanya nyaris di setiap penampilan publiknya.

Ibarat teriak-teriak anti-budaya asing, tapi cara berpakaian dan potongan rambut mengekor gaya G-Dragon Big Bang. Sevulgar itulah Imam berparadoks (untuk tidak mengatakan munafik).

Conclusion

Imam terlihat punya potensi. Pun meski mengikuti jalan sang ayah, toh Amir bukanlah politisi yang buruk. Bukan politisi yang sering terseret kasus yang memalukan.

Tapi penyangkalan menumpang ketenaran sang ayah itulah yang bikin kita meragukan “warna asli” Imam. Kok ya gak sejalan antara omongan dan perbuatan. Eh tapi kalau itu sih bukannya ciri politisi kawakan ya? Yang justru (kalau benar demikian adanya) harus kita hindari orang-orang semacam ini.

Kesimpulannya, kita sih ragu dengan niat baik Imam. Perbuatan lebih bisa dipercaya daripada lidah yang bersilat.

Baca Unboxing Caleg lain:

Danik Eka dan Mimpi Orang Desa

Setuju dengan Imam dengan Memberdayakan TKI?

Tanggapan pendukung

marisa herlin wrote: buah jatoh ga jauh dari pohonnya
17-04-2019, 15:05
lavina rini wrote: tak ingin, tapi mau tak mau keikutan
17-04-2019, 13:21
neva christine wrote: semuanya ga selalu sesuai ekspektasi
17-04-2019, 09:44
dicky salim wrote: semoga saja sukses nih
17-04-2019, 01:54
firdaus oktavia wrote: pertahanin terus kinerjanya bos
17-04-2019, 00:28
Wulan nur wulan wrote: He's new for me..
16-04-2019, 22:06
Maria Nababan wrote: Tindakan sama yang keluar dari mulut sebaiknya sama
13-04-2019, 18:06