Anggap Ardima Putra sebagai Manusia, Titik

Nama: Ardima Rama Putra

Dapil: Jakarta I (Jakarta Timur)

Partai: Golkar

Sebelumnya yuk kita beri tepuk tangan dulu atas pengesahan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016. Terima kasih bapak-bapak, ibu-ibu, tante-tante, dan om-om di DPR. Jarang-jarang loh kita berterima kasih sama kalian (jadi malu).

Dengan disahkannya UU tersebut, hak penyandang disabilitas berkontribusi dalam pesta demokrasi dijamin sepenuhnya oleh negara. Baik sebagai pemilih, maupun pihak yang dipilih.

Kesempatan ini rupanya tidak disia-siakan saudara-saudara kita penyandang disabilitas. Jika pada Pemilu 2014 tercatat hanya ada seorang caleg disabilitas, pada pemilu tahun ini meningkat tajam menjadi setidaknya 32 caleg.

Salah seeorang di antaranya adalah Ardima Rama Putra yang mencalonkan dari Partai Golkar untuk Dapil Jakarta I yang meliputi Jakarta Timur.

Sebenarnya, walaupun minoritas, secara hitung-hitungan masuk akal juga menjaring suara penyandang diasbilitas. Berdasarkan data, ada setidaknya 10 persen dari total penduduk Indonesia menyandang disabilitas, atau sekitar 25 juta jiwa. Kalau setengahnya saja memiliki hak pilih, potensi suara dari kaum disabilitas ini memang lumayan menggiurkan.

Pertanyaannya, apakah Ardima sekadar menjaring suara di ceruk kecil yang selama ini terabaikan? Atau apakah dia sedang mengekesploitasi kekurangan kondisi fisik dirinya untuk meraih simpati para calon pemilih?

Kita coba kuliti bareng-bareng deh.

What’s in The Box

Ardima lahir di Jakarta, 10 Juli 1990. Dima—demikian dia biasa disapa— tumbuh dan beranjak dewasa sebagai anak yang aktif. Ia juga tampak menyukai beragam olahraga. Salah satunya adalah permainan bola basket.

Kecelakaan mobil pada 2007 membuat Dima harus rela duduk di kursi roda. Kakinya lumpuh, tak mampu menopang tubuh dan berjalan. Apalagi berlari dan melompat-lompat di lapang basket. Kondisi ini memaksa Dima meninggalkan kuliahnya di Universitas Padjadjaran, Bandung, Jawa Barat, karena fokus menjalani berbagai terapi.

Cita-cita menjadi geolog pada akhirnya harus ia lupakan. Namun, mental dan jiwa yang begitu kuat membuat keterbatasan fisik tak mampu membendung semangat Dima untuk hidup sehidup-hidupnya. Toh dunia ini terlalu luas untuk meratapi satu bidang keahlian yang tak bisa kita gapai.

Perlahan tapi pasti, Dima mulai membelokkan arah hidupnya pada politik. Untuk mengawali langkah, Dima bergabung dan aktif di organiasi massa Pemuda Pancasila.

Jalur politik bukan jalan baru di keluarga Dima. Rute karier politik pernah dilakoni kakeknya yang menjadi anggota DPR dari Partai Persatuan Pembangunan di era 1990-an.

Dima benar-benar masuk organisasi politik saat merapat ke Partai Amanat Nasional pada 2015. Kebetulan, Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan saat itu sedang giat-giatnya merekrut anak muda. Tapi entah ada masalah apa, Dima hanya bertahan dua tahun di partai besutan Amien Rais ini.

Keluar dari PAN, Dima bergabung dengan Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI), sebuah organisasi sayap Partai Golkar yang mewadahi anak muda. AMPI-lah yang kemudian mendorong Dima menjadi caleg dari partai Golkar.

Selain di politik, Dima juga aktif dalam kepengurusan berbagai cabang olah raga. Salah satu kontribusi yang paling signifikan adalah ketika menjadi Sekretaris Pengurus Provinsi Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI) DKI Jakarta serta Bendahara Pengurus Perbasi (Persatuan Basket Seluruh Indonesia) Jakarta Timur. 

Pros

Mari lupakan sejenak Dima sebagai penyandang disabilitas. Untuk menghindari penilaian yang emosional dan sentimentil, mari anggap Dima sebagai manusia yang sama sekali tak berbeda dengan lainnya. Persis seperti kalau kita unboxing caleg cantik atau ganteng, kondisi fisik sebaiknya diabaikan.

Nah, apa yang kita suka dari Dima adalah karena ia memang menganggap politik sebagai jalan hidupnya. Di saat banyak anak muda apatis terhadap politik, Dima justru berjalan ke arah sebaliknya. Dima mempersiapkan dirinya untuk secara serius menyelami profesi politik. “Saya bilang ke keluarga, saya ingin menjadikan politikus sebagai profesi.” Demikian Dima berkisah seperti dikutip BBC.com.

Konsekuensinya, menurut Dima, ia harus meniti profesi ini seperti berlari maraton. Tidak berharap kesuksesan instan. “Ini bukan kepentingan sesaat atau jangka pendek. Target saya bukan sukses dalam lima atau 10 tahun ke depan,” ujar Dima mantap.

Menurut TR, sikap Dima ini sungguh luar biasa. Dima menjadikan “proses” sama pentingnya dengan “hasil akhir.” Tak banyak orang mau bersabar menjalani proses seperti Dima. Apalagi para politisi yang terkenal sering terjebak dalam pragmatisme.

Jadi tanpa mempertimbangkan kondisi fisiknya pun, perjalanan Dima sejauh ini membuktikan bahwa dirinya adalah pemuda yang luar biasa.

Kalau lihat akun instagramnya, Dima terlihat sekali aktif dalam berbagai kegiatan olahraga. Mulai dari basket (paling banyak), baseball, hingga sepakbola. Sejumlah orang terkenal seperti BJ Habibie, Susilo Bambang Yudhoyono, Agus Gumiwang Kartasasmita, pernah berfoto dengan Dima. Lingkaran pertemanan Dima memang “mengerikan” kayaknya.

Cons

Ironisnya (dalam artian yang baik) dengan segala keterbatasan fisik Dima, Tim TR tak berhasil melihat banyak kekurangan dari lelaki yang tercatat sebagai Managing Director di PT Mitra Diruma Sejahtera ini.

Sumpah demi Dewa 19, ini bukan karena kita merasa rikuh membahas kekurangan kaum penyandang difabel. Kalaupun harus berprasangka buruk, Dima pandai menyembunyikan kejelekannya. Setidaknya hingga hari ini di mana ia belum terkenal-terkenal banget. Pun belum punya musuh banyak yang ingin menjatuhkannya.

Conclusion

Mau tahu seberadab apa sebuah bangsa? Lihatlah cara bangsa tersebut memperlakukan warganya yang lemah. Nah, kaum disabilitas termasuk di dalam kelompok yang lemah tersebut. Kalau mau jujur sih, kaum disabilitas kerap diperlakukan diskriminatif, dipandang sebelah mata, dan tidak adil di negeri ini.

Tapi tidak serta-merta negeri ini dikuasai orang-orang jahat loh. Seringnya karena mereka tidak sadar saja. Seringnya karena para pengambil kebijakan tak memiliki wawasan tentang apa yang dialami para disabilitas. Karena itu, kita butuh wakil rakyat seperti Dima yang memiliki sudut pandang seorang disabilitas.

Kesimpulannya, Dima recommended untuk mewakili kita semua.

***

Penilaian dalam unboxing ini berdasarkan hasil penelusuran Tim TR dari berbagai sumber. Kalau kamu punya informasi lebih yang belum kami sebutkan, tulis di kolom komentar sebelah kanan. Nanti tulisan akan kami update. Sebagai penghormatan, tentu saja nama kamu akan kami tulis sebagai narasumber. Setelah itu kamu boleh loh banggain kontribusimu dengan share tulisan ini di sosmed kamu. Biar teman kamu juga gak bingung lagi apa yang harus mereka pilih. Yuk saling bantu jadi pemilih cerdas.

Baca Unboxing Caleg lain:

Davin Kirana, Siapanya Lee Min Ho Nih?

Bagaimana menurutmu?

Tanggapan pendukung

siska wirawan wrote: berjuang ya mas
19-04-2019, 15:03
adi putra wrote: benar, harus ada proses yang dilalui bukan tiba tiba langsung serba jadi
17-04-2019, 14:33
alan rahman wrote: keren sih ngga berharap kesuksesan instan
17-04-2019, 14:25
annisa samsa wrote: sukses ya mas, suka banget sih sama prosesnya
17-04-2019, 14:16
asih annas wrote: tetap semangat bung
17-04-2019, 14:03
saliha anindita wrote: darah politiknya udah kentel emang
17-04-2019, 10:27
evany agustina wrote: salut
17-04-2019, 06:23
prasetya ramadhan wrote: semangat mas, sudut pandang yang saya yakin akan sangat dibutuhkan di negeri ini
17-04-2019, 01:59
lutfi saputra wrote: semoga dengan meluasnya sudut pandang di negeri ini, tidak ada lagi yg namanya berat sebelah ya. amin
17-04-2019, 01:59
achmad nugros wrote: semoga sukses mas
17-04-2019, 01:57
chandra susanto wrote: bener banget sih, semua itu harus ada prosesnya
17-04-2019, 01:56
fidelia chandra wrote: semangat mas, pelan pelan asal sukses
17-04-2019, 01:52
maulana sigit wrote: saya doakan lancar mas kariernya
17-04-2019, 01:48
Iyay Yan wrote: Salut saya Pak sama Bapak. Kekurangan tak jadikan hambatan. Mantap!
16-04-2019, 18:53
SURYADI LUKMANTARA wrote: semoga sukses mas
16-04-2019, 18:49
Safri wijaya wrote: semangat mas, sukses dan perjuangankan
16-04-2019, 02:57
theresia tere wrote: semangat mas, tidak usah peduli tanggapan orang lain kalau benar adanya membawa hasil positif
16-04-2019, 02:56
theresia tere wrote: semangat mas, tidak usah peduli tanggapan orang lain kalau benar adanya membawa hasil positif
16-04-2019, 02:54
sandy marjuadi wrote: mudah-mudahan lolos mas
15-04-2019, 20:16
deden ismail wrote: fokus kerja tanpa peduli tanggapan orang lain
15-04-2019, 06:20
timothy nasution wrote: salah satu kelompok yang jarang didenger aspirasinya
13-04-2019, 23:34
Maria Nababan wrote: Seharusnya kekurangan fisik ga jadi halangan buat berprestasi
13-04-2019, 18:20
rinka ririn wrote: wah benar sekali, saya setuju. kita sangat membutuhkan pandangan dari kaum disabilitas. dan mungkin saja ini bisa membuat kita lebih membuka mata kita
03-04-2019, 18:08