Akselerasi Pemerataan Pendidikan di Daerah 3T

Berbicara soal dunia pendidikan di Indonesia memang bukanlah suatu hal yang mudah. Ada banyak sekali beragam permasalahan yang membuat kondisi ini tidak kunjung selesai. Selain masalah klasik seperti kurangnya tenaga pengajar yang berkualitas, permasalah kondisi geografis Indonesia sendiri juga merupakan salah satu faktor penting yang menyebabkan penyebaran sarana dan prasarana pendidikan tidak merata.

Sudah tidak bisa dipungkiri lagi bahwa sebagian besar tenaga pendidik lebih milih untuk mengajar di kota-kota besar karena faktor ketersediaan fasilitas kesehatan serta intuisi keamanan. Namun di sisi lain, wacana agar para tenaga pengajar mulai mengabdikan dirinya di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) sudah mulai harus diimplementasikan secara kongkrit. Salah satu deadline yang terus menghantui bangsa Indonesia adalah “Globalisasi”. Tanpa pendidikan yang merata, maka bangsa ini tidak akan sanggup meghadapi globalisasi yang membuat dunia semakin terkait. Namun sayangnya, semua ini belum bisa terealisasi secara maksimal karena faktor 3T tersebut.

Hal ini tentunya semakin diperparah dengan adanya Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) yang mendapatkan respon yang cukup negatif dari berbagai kalangan. Namun di luar hal tersebut, harus diingat juga bahwa pelaksanaan UNBK secara serempak juga akan merugikan daerah 3T. Kendala seperti jaringan telekomunikasi, ketidakstabilan aliran listrik dan tentunya keterbatasan komputer akan justru semakin menghambat pengadaan UNBK secara nasional. Bagaimana mungkin para pelajar tersebut bisa menghadapi ujian berbasis komputer jika sejak dini mereka tidak pernah bersentuhan dengan teknologi tersebut. Hal ini sudah pasti akan menimbulkan kecacatan dalam pelaksanaan pendidikan di Indonesia.

Sudah semestinya pendidikan menjadi hak dari segala bangsa, tanpa terkecuali mereka yang tinggal di daerah 3T. Upaya untuk mewujudkan hal tersebut tentunya harus menjadi porsi yang cukup besar untuk pemerintah. Namun, harus dipahami juga bahwa permasalahan pendidikan di Indonesia tidak harus selamanya menjadi beban pada pemerintah saja. Apabila ingin mempercepat akselerasi pemerataan kualitas, sarana dan prasarana pendidikan, maka diperlukan sinergi yang sistematis dengan berbagai pihak. Sinergi tersebut bisa dilakukan dengan berbagai pihak seperti NGO, entrepreneur, bahkan juga relawan-relawan dengan ide kreatif yang ingin memberikan kontribusi yang signifikan pada dunia pendidikan. Selain akan mempercepat pemerataan dalam infrastruktur pendidikan, hal ini juga akan membuka peluang buat para filantropis untuk berkontribusi langsung untuk masa depan pendidikan di Indonesia.

Bagaimana dengan? Kontribusi seperti apakah yang bisa kita berikan untuk mewujudkan pendidikan yang merata di Indonesia?

BERIKAN OPINIMU

Tanggapan pendukung

Sindy Aritonang wrote: Pemerataan pendidikan berarti pemenuhan Hak2 Asasi Manusia!
29-01-2019, 10:37
Adli Food wrote: Kita sebagai generasi muda harus berperan aktif dalam berbagai lini, entah itu ikut menyebarkan informasi yang baik terkait perkembangan dunia pendidikan dan politik ataukah terjun langsung membantu mereka yang kekurangan buku pelajaran dengan cara mencarikan donatur atau mengumpulkan buku bekas.
02-01-2019, 14:00
sindi Kusuma wrote: Untuk pelajar seperti kami rasanya kontribusi yang dapat dilakukan adalah menyumbangkan banyak buku pelajaran untuk digunakan di sana, karena mereka pasti lebih banyak belajar dengan buku daripada internet. Sekali pun ada buku, pasti jumlahnya sangat tidak menjangkau dengan jumlah anak yang ada.
19-12-2018, 13:25
Philo CreateTiVi wrote: Masyarakat perlu informasi politik yang murni .. tanpa memihak kepada para pemilik kepentingan
06-11-2018, 14:32
haddad sasak wrote: berbudaya demimasyrakat dan pendidikan lebih maju
31-10-2018, 22:56