Ingat Kamaruddin Jadi Ingat Yap Thiam Hien

Nama: Kamaruddin S.H.

Dapil: Aceh II (Bireuen, Lhokseumawe, Aceh Utara, Bener Meriah, Aceh Tengah, Aceh Timur, Langsa, dan Aceh Tamiang)

Partai: PSI

“Jawa adalah kunci.” Demikian kutipan terkenal D.N. Aidit seperti tergambar dalam film Pengkhianatan G30S/PKI. Sejak zaman kolonial, Jawa memang pusat pemerintahan, bisnis, pendidikan, dan segala macam lainnya.

Tak heran banyak yang merantau ke Jawa. Bahkan setelah itu menetap dan beranak-pinak di pulau di selatan Indonesia ini. Pulang kampung paling setahun sekali saat Lebaran.

Tapi tidak dengan Kamaruddin. Pria kelahiran Aceh yang akan kita unboxing ini memilih berkarya di kampung sendiri, setelah sempat menamatkan kuliah dan bekerja di Yogyakarta.

Karena semegah apapun Jawa, bagi Kamaruddin, Aceh-lah yang menjadi kunci. Toh, kalau bukan orang Aceh siapa lagi yang lebih paham soal Tanah Rencong bukan? Kalau bukan orang Aceh sendiri, siapa lagi yang paling rela mempertaruhkan segalanya demi Aceh?

Tahun ini adalah babak baru buat Kamaruddin. Ia akan bertarung memperebutkan kursi DPR RI dari Dapil Aceh II yang meliputi Bireuen, Lhokseumawe, Aceh Utara, Bener Meriah, Aceh Tengah, Aceh Timur, Langsa, dan Aceh Tamiang.

Kamaruddin maju sebagai caleg dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Dengan kondisi Aceh beserta segala situasi dan kondisi, pilihan partainya itu seolah lebih cari masalah ketimbang cari dukungan.

Mau tahu mengapa Kamaruddin tampak seperti selalu memilih jalan sulit? Mungkin unboxing TR ini bisa memberikan gambaran.

What's in The Box

Kamar—demikian Kamaruddin biasa disapa—lahir di Kabupaten Aceh Tamiang, 14 Februari 1977. Kamar jelas bukan anak bodoh. Setidaknya terlihat dari keberhasilan Kamar menembus ujian masuk perguruan tinggi negeri dan diterima di Fakultas Hukum (FH) Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Kalau boleh menebak, Kamar juga bukan anak keluarga miskin. Sekolah di Jawa, tentu butuh biaya lebih.

Setelah mengantongi gelar sarjana hukum dari UGM, Kamar langsung mengikuti Pendidikan Khusus Profesi Advokat. Bahkan saat masih kuliah, ia aktif di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta.

Boleh dibilang, Kamar menyelesaikan studi dan memulai karier dengan mudah dan lancar di Jawa. Kalau cuma “menaklukkan” Jawa sih, Kamar punya modal kuat untuk melakukan itu. Namun kenyamanan tersebut tak membuatnya berpaling dari tanah kelahirannya. Ia kembali ke Aceh dan melayani masyarakat, khususnya dalam masalah hukum dengan bekerja di LBH Banda Aceh.

Pada 2012, Kamar dipercaya menjadi koordinator pasangan calon gubernur Aceh Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf. Belakangan, pasangan yang didukung Kamar ini memenangi pilgub Aceh periode 2012-2017.

Pros

Seperti diceritakan di awal, pilihan kembali ke Aceh justru mengantarkan Kamar pada petualangan penuh bahaya. Salah satu puncaknya adalah saat Kepolisian Resor Langsa menyatakan dirinya sebagai tersangka sejak 4 Agustus 2007.

Bersama tujuh rekannya di LBH Banda Aceh, Kamar dituding “menyiarkan, mempertontonkan atau menempelkan tulisan yang isinya menghasut di muka umum dengan lisan atau tulisan” sesuai Pasal 160 junto 161 sub 335 Kitab Undang-undang Hukum Pidana.

Perkara ini dipicu pembelaan Kamar terhadap warga beberapa desa di Aceh Timur yang dipaksa menjual tanah dengan harga murah oleh PT Bumi Flora. Lawan yang dihadapi Kamar dan warga memang bukan perusahaan biasa. Kesewenang-wenangan Bumi Flora dibekingi aparat.

Selain menyerobot lahan warga, Bumi Flora juga diduga terlibat dalam penembakan massal di perumahan karyawan perusahaan itu. Berdasarkan laporan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM),  31 orang tewas. Tujuh lainnya luka parah.

Catatan hitam Bumi Flora tak membuat Kamaruddin gentar. Karena bagi Kamar, lebih menyeramkan lagi bila dirinya berdiam diri membiarkan rakyat diperlakukan tak adil. “Saya takut ini menjadi preseden buruk. Pasal hatzaai artikelen sering digunakan untuk mengancam aktivis pembela HAM dan pers,” kata Kamaruddin seperti dikutip Pantau.or.id saat itu.

Pasal-pasal hatzaai artikelen yang dimaksud Kamaruddin di antaranya adalah Pasal 160 dan 161 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) tentang penghasutan dan penghinaan terhadap pemerintah. Aturan hatzaai artikelen lainnya adalah pasal 154 dan 155 KUHP tentang tindakan yang dianggap menimbulkan permusuhan.

Sulit mencari informasi bagaimana kasus tersebut berakhir. Yang jelas pada pertengahan tahun itu juga Mahkamah Konstitusi menyatakan pasal 154 dan 155 KUHP tidak berlaku lagi. Apapun itu, fakta bahwa Kamaruddin masih bernafas hingga hari ini patut disyukuri.

Pengalaman berhadapan dengan korporasi “hitam” inilah yang kita sukai dari Kamar. Ancaman kebebasan, bahkan bertaruh nyawa sekalipun dijabani Kamar demi membela keadilan. Padahal, kalau sejak awal memilih tetap di Jawa, Kamar bisa jadi menikmati hidup yang lebih tenang dan sejahtera.

Menarik juga keputusan dan keteguhan Kamar maju dari PSI. Mengingat dapil yang dipilih adalah wilayah Aceh, yang terkenal religius konservatif. Sementara PSI berhaluan nasionalis. Kalaupun banyak pengurus PSI yang religius (dan tampil cukup agamis), haluan keberagamaan PSI adalah progresif.

Penolakan PSI pada praktik poligami dan perda-perda berbasis kitab suci agama, tentu menjadi tantangan tersendiri bagi Kamar untuk meraih simpati warga. Tapi itulah Kamaruddin. Kalau gak menantang, kayaknya gak seru. Fighter banget.

Cons

Tak banyak kelemahan Kamar yang kami temukan. Catatan masa lalunya bersih. Tapi kalau pun harus ada, bung Kamar kok selalu terlihat serius ya di video-video Youtube. Memang sih pengalaman yang ia lalui keras banget ya. Gak bisalah dibandingkan dengan pengalaman kamu yang cuma ditolak pujaan hati, atau terjebak di kubangan friendzone yang sudah menahun itu. Gimana pun juga ancaman patah hati tak sebanding dengan ancaman patah leher.

Tapi kalau bisa nih bang, lebih santai sedikitlah. Bertingkah konyol sedikit gak apa-apa. Asal jangan sekonyol.. uhuk Fadli Zon uhuk uhuk… Duh gatel tenggorokan.

Conclusion

Kamar adalah tipe pejuang. Dari penggalan kisah tadi, Kamar mau loh mempertaruhkan hampir segalanya buat warga. Persis seperti yang dilakukan salah satu tokoh yang ia kagumi, Yap Thiam Hien.

Buat yang merasa asing dengan nama ini, Yap adalah salah satu pejuang HAM paling tangguh di Bumi Nusantara. Untuk menghormati jasa-jasanya, Yayasan Pusat Studi Hak Asasi Manusia sampai menamai penghargaan untuk pejuang HAM dengan nama Yap Thiam Hien Award.

Kebetulan, Yap yang keturunan etnis Tionghoa itu adalah anak asli Aceh. Ia lahir pada 1913 di Kuta Raja, atau sekarang Banda Aceh. Pantes aja ya, Kamar bangga sama opa Yap.

Kesimpulannya Kamar recomended banget untuk meneruskan perjuangan di Gedung DPR RI. Demi warga Aceh. Untuk Indonesia.

***

Penilaian dalam unboxing ini berdasarkan hasil penelusuran Tim TR dari berbagai sumber. Kalau kamu punya informasi lebih yang belum kami sebutkan, tulis di kolom komentar sebelah kanan. Nanti tulisan akan kami update. Sebagai penghormatan, tentu saja nama kamu akan kami tulis sebagai narasumber. Setelah itu kamu boleh loh banggain kontribusimu dengan share tulisan ini di sosmed kamu. Biar teman kamu juga gak bingung lagi apa yang harus mereka pilih. Yuk saling bantu jadi pemilih cerdas.

Pesan

    Teman Rakyat ini menggunakan cookie untuk memberi Anda pengalaman navigasi yang lebih baik di situs kami. Segera setelah Anda melanjutkan tur, kami menganggap Anda menerima kebijakan cookie. Pelajari lebih lanjut tentang kebijakan cookie yang kami gunakan here.