Hariyanto Arbi, Ada Trauma yang Memotivasi

Nama: Hariyanto Arbi

Dapil: Jateng II (Kudus, Jepara, dan Demak).

Partai: PSI

Nama Hariyanto Arbi sudah gak asing di telinga masyarakat, apalagi buat para pecinta Bulutangkis. Ia merupakan salah satu legenda bulutangkis tanah air, gak heran kalau sabetan gelar pemain bulutangkis putra terbaik sedunia versi Badminton World Federation (BWF) pernah direbutnya.

Keputusannya masuk politik ternyata sebagian didorong peristiwa menyedihkan dan heroik pada saat yang bersamaan. Sebelum cerita motivasinya itu, kita kupas pelan-pelan profil mantan atlet yang maju sebagai caleg dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) ini.

What’s in The Box

Lahir dari keluarga pecinta bulutangkis, Michael Ludwig Hariyanto Arbi, begitu nama lengkapnya, lahir di Kudus, 21 Januari 1972. Ia mengikuti jejak karier kedua kakaknya, Hastomo Arbi dan Eddy Hartono yang lebih dulu menekuni olahraga itu.

Soal prestasi jangan ditanya, ragam gelar telah diperoleh. Itu pun diraih lewat kerja keras pasca bulan-bulanan lawannya di awal era 90-an. Ia bangkit, dan julukan “smash 100 watt” melekat setelah mengalahkan Rashid Sidek, mantan pemain tunggal Malaysia, di pertandingan Final Piala Thomas 1994.

Lepas menggantungkan raket, di tahun 2002 Hari menekuni bisnis perlengkapan bulutangkis. Lewat brand Flypower, kecintaannya terhadap Indonesia tercermin dari desain batik yang melekat pada produk-produknya.

Boleh dibilang bisnisnya sukses, karena sampai saat ini ada 20 negara yang antusias menyambut produk-produk Flypower.

Pros

Mei 1998 tak akan pernah dilupakan Hariyanto. Bukan saja karena di bulan itu menjadi tonggak bersejarah bergulirnya reformasi. Melainkan pada saat itu kekuatan mental Hariyanto dan seluruh tim Thomas-Uber beretnis Tionghoa lainnya diuji dengan hebat.

Saat Hariyanto dkk harus fokus memenangi pertandingan demi pertandingan Piala Thomas-Uber di Hongkong kabar dari Tanah Air mengguncang. Berita di televisi menyuguhkan rekaman-rekaman video kerusuhan di berbagai kota di Indonesia. Terutama Jakarta.

Tak pelak, selera bermain Hariyanto dan tim mendadak hilang. Sulit mempertahankan fokus pikiran ke lapangan pertandingan. Sepenting apapun Piala Thomas, pulang dan memastikan keluarga tercinta aman adalah satu-satunya aksi yang mereka ingin lakukan.

Beruntung pengurus Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) bertindak cepat. Kebetulan struktur pengurus PBSI banyak diisi para jenderal TNI. Pimpinan rombongan Tim Thomas-Uber, Mayor Jenderal TNI Agus Wirahadikusuma meminta Hariyanto dan seluruh tim mendaftar keluarga dan kerabat beserta alamat lengkap masing-masing.

Agus meyakinkan tim, keluarga di Tanah Air dijamin aman. Sebab, dengan bekal informasi tadi, pasukan TNI di Tanah Air menjaga rumah-rumah keluarga dan kerabat atlet Piala Thomas-Uber.

Jaminan tersebut mujarab. Hariyanto dan tim bisa bermain lebih tenang. Bahkan mampu memenangi pertandingan demi pertandingan dan mempertahankan gelar Piala Thomas. Menurut Hariyanto, pihak PBSI juga meyakinkan, bahwa kemengan dalam turnamen tertinggi bulutangkis ini akan meredam kerusuhan bernuansa rasial di kampung halaman.

Pengalaman ini sangat membekas (kalau bukan traumatis) bagi Hariyanto. Ia berjibaku membela negara, namun saudara se-etnis Hariyanto banyak yang menjadi korban kacaunya negeri ini saat itu.

Pascareformasi, keadaan terus membaik. Banyak perubahan yang menjamin kesetaraan untuk setiap warga negara Indonesia. Namun tindakan diskriminatif tak betul-betul hilang. Bahkan hingga hari ini.

Berbagai masalah intoleransi dan pengalaman itulah salah satu pendorong kuat bagi Hariyanto untuk terjun ke politik praktis.

Hal lainnya yang menjadi kepedulian Hariyanto adalah nasib mantan atlet yang masih belum mendapat jaminan kualitas hidup yang layak.

Cons

Nah ini bagian yang sulit. Prestasi oke, bisnis sukses, pun punya kepribadian yang tak neko-neko. Alhasil, gak banyak kekurangan yang bisa kami temukan pada Hariyanto.

Paling masalah pendidikan saja. Bila sebagian besar caleg lain bergelar sarjanan atau lebih tinggi, Hariyanto hanya tercatat lulus sekolah menengah atas. Itu pun ia dapatkan dengan menempuh Kejar Paket C. Namun pencapaian itu tentu merupakan konsekuensi karena fokus menjadi atlet sejak umur belia.

Conclusion

Sebagai atlet dunia berprestasi, Hariyanto adalah pejuang tangguh. Itulah sebabnya Hariyanto tetap memilih hidup di Indonesia, dengan segala kekurangannya. Jangan salah loh, setelah Piala Thomas 1998 itu, Hariyanto dan tim ditawari pindah kewarganegaraan oleh banyak negara. Kecintaannya pada Indonesia tak perlu diragukan lagi.

Hariyanto juga memiliki kepribadian yang baik. Tak banyak bicara, namun banyak berkarya. Jauh dari gosip-gosip miring atau pemberitaan negatif. Sebaliknya, di kampung halamannya Hariyanto dikenal sebagai sosok yang rendah hati. Jauh sebelum hingar-bingar pencalonannya ke DPR, Hariyanto kerap berkunjung ke rumah kontrakannya dulu dan menyapa warga di sana.

Soal latar belakang pendidikan, ya salah satu menteri terbaik saat ini juga hanya tamat SMP. Tak ada yang meragukan kemampuannya bukan? Kesimpulannya, Hariyanto sangat layak kita pilih pada Rabu, 17 April nanti. Nyaris gak ada cacatnya.

***

Penilaian dalam unboxing ini berdasarkan hasil penelusuran Tim TR dari berbagai sumber. Kalau kamu punya informasi lebih yang belum kami sebutkan, tulis di kolom komentar sebelah kanan. Nanti tulisan akan kami update. Sebagai penghormatan, tentu saja nama kamu akan kami tulis sebagai narasumber. Setelah itu kamu boleh loh banggain kontribusimu dengan share tulisan ini di sosmed kamu. Biar teman kamu juga gak bingung lagi apa yang harus mereka pilih. Yuk saling bantu jadi pemilih cerdas.

Temukan Unboxing Caleg lain:

Dedek “Uki” Prayudi, Punya Ilmu yang Cocok

 

Pesan

    Teman Rakyat ini menggunakan cookie untuk memberi Anda pengalaman navigasi yang lebih baik di situs kami. Segera setelah Anda melanjutkan tur, kami menganggap Anda menerima kebijakan cookie. Pelajari lebih lanjut tentang kebijakan cookie yang kami gunakan here.