Piala Dunia dan Keanehan 2018

Piala Dunia dan Keanehan 2018

Selamat datang musim sepakbola. Hari ini, Piala Dunia (PD) 2018 dimulai. Agak aneh karena kali ini dimulainya kompetisi olahraga tunggal terbesar di dunia tersebut nyaris berbarengan dengan perayaan terbesar keagamaan di Indonesia, Idul Fitri.

Hawa liburan Lebaran berbaur dengan demam PD. Hingga tak jelas kemeriahan yang tercipta akibat menjelang Idul Fitri ataukah PD. Atau jangan-jangan bukan keduanya. Karena bising ribut-ribut dua kubu politik di negeri ini masih terlalu kuat menggema.

Sementara kembali absennya Indonesia dalam PD ke-21 ini tentu tidak aneh. Tak pernah aneh, sejujurnya. Karena memang tak pernah lolos PD. Maka, tak ada gorengan keributan berbalur minyak politis soal ini.

Sebaliknya bagi Belanda dan Italia, dimulainya PD 2018 bisa jadi menyulut kembali perbincangan di warung kopi betapa sialnya nasib mereka. Dua raksasa sepakbola itu secara mengejutkan terjegal untuk berlaga di babak playoff PD di Rusia.

Kalau saja salah satu atau kedua negara itu adalah Indonesia, bisa jadi bersahutan lagi tudingan gagalnya ke PD adalah karena kinerja lemah pemimpin negeri yang berkuasa. Lalu perang meme lagi. Perang hoax lagi. Kita tak pernah bosan ya?

Tapi setidaknya, PD tahun ini juga membersitkan secercah harapan menyusul lolosnya Islandia untuk pertama kali. Betapa tidak, Islandia adalah negeri liliput dibanding Indonesia. Luasnya hanya 102,775 km persegi. Atau tak lebih luas dari wilayah Kalimantan Timur.

Pun demikian total penduduknya yang hanya 350 ribu jiwa. Hanya sedikit lebih banyak dari total populasi kota mungil Sukabumi.

Tim nasional Islandia juga ternyata dibina pelatih paruh waktu, Heimir Hallgrimmson. Selain melatih timnas, Hallgrimmson juga bekerja sebagai dokter gigi.

Lalu dari total 23 pemain timnas, 15 di antaranya tak pernah bermain di kancah internasional. Sebagian dari pemain timnas itu sempat dibawa ke Indonesia saat bertanding melawan Indonesia Selection, Januari silam.

Di hadapan publik Indonesia, Hallgrimmson mengatakan, kunci keberhasilan Islandia menembus PD salah satunya adalah mendidik pesepakbola sejak dini dan memiliki banyak pelatih berlisensi UEFA.

Selain itu, pemerintah Islandia juga serius membangun infrastruktur dan fasilitas lain yang baik. Hal ini penting untuk menunjang pendidikan sepakbola berjangka panjang.

Upaya konsisten ini, menurut Hallgrimmson, baru membuahkan hasil setelah satu dekade terlampaui.

Terdengar mudah bukan? Indonesia juga bisalah, dengan terus berikhtiar dan tawakal. Insya Allah.

Tapi untuk saat ini, mari kita nikmati dulu Piala Dunia 2018. Toh menonton timnas negara asing berlaga juga ada banyak pelajaran yang bisa kita ambil untuk membenahi sepakbola nasional.

Menonton PD juga kini lebih asyik lagi karena ditemani Belanda dan Italia yang sejak kemarin merengut di pojokan bar. Tos dulu ah meneer dan signor.

atau

Subjek email:
Piala Dunia dan Keanehan 2018

Pesan:

Selamat datang musim sepakbola. Hari ini, Piala Dunia (PD) 2018 dimulai. Agak aneh karena kali ini dimulainya kompetisi olahraga tunggal terbesar di dunia tersebut nyaris berbarengan dengan perayaan terbesar keagamaan di Indonesia, Idul Fitri. Hawa liburan Lebaran berbaur dengan demam PD. Hingga tak jelas kemeriahan yang tercipta akibat menjelang Idul Fitri ataukah PD. Atau jangan-jangan bukan keduanya. Karena bising ribut-ribut dua kubu politik di negeri ini masih terlalu kuat menggema. Sementara kembali absennya Indonesia dalam PD ke-21 ini tentu tidak aneh. Tak pernah aneh, sejujurnya. Karena memang tak pernah lolos PD. Maka, tak ada gorengan keributan berbalur minyak politis soal ini. Sebaliknya bagi Belanda dan Italia, dimulainya PD 2018 bisa jadi menyulut kembali perbincangan di warung kopi betapa sialnya nasib mereka. Dua raksasa sepakbola itu secara mengejutkan terjegal untuk berlaga di babak playoff PD di Rusia. Kalau saja salah satu atau kedua negara itu adalah Indonesia, bisa jadi bersahutan lagi tudingan gagalnya ke PD adalah karena kinerja lemah pemimpin negeri yang berkuasa. Lalu perang meme lagi. Perang hoax lagi. Kita tak pernah bosan ya? Tapi setidaknya, PD tahun ini juga membersitkan secercah harapan menyusul lolosnya Islandia untuk pertama kali. Betapa tidak, Islandia adalah negeri liliput dibanding Indonesia. Luasnya hanya 102,775 km persegi. Atau tak lebih luas dari wilayah Kalimantan Timur. Pun demikian total penduduknya yang hanya 350 ribu jiwa. Hanya sedikit lebih banyak dari total populasi kota mungil Sukabumi. Tim nasional Islandia juga ternyata dibina pelatih paruh waktu, Heimir Hallgrimmson. Selain melatih timnas, Hallgrimmson juga bekerja sebagai dokter gigi. Lalu dari total 23 pemain timnas, 15 di antaranya tak pernah bermain di kancah internasional. Sebagian dari pemain timnas itu sempat dibawa ke Indonesia saat bertanding melawan Indonesia Selection, Januari silam. Di hadapan publik Indonesia, Hallgrimmson mengatakan, kunci keberhasilan Islandia menembus PD salah satunya adalah mendidik pesepakbola sejak dini dan memiliki banyak pelatih berlisensi UEFA. Selain itu, pemerintah Islandia juga serius membangun infrastruktur dan fasilitas lain yang baik. Hal ini penting untuk menunjang pendidikan sepakbola berjangka panjang. Upaya konsisten ini, menurut Hallgrimmson, baru membuahkan hasil setelah satu dekade terlampaui. Terdengar mudah bukan? Indonesia juga bisalah, dengan terus berikhtiar dan tawakal. Insya Allah. Tapi untuk saat ini, mari kita nikmati dulu Piala Dunia 2018. Toh menonton timnas negara asing berlaga juga ada banyak pelajaran yang bisa kita ambil untuk membenahi sepakbola nasional. Menonton PD juga kini lebih asyik lagi karena ditemani Belanda dan Italia yang sejak kemarin merengut di pojokan bar. Tos dulu ah meneer dan signor.
https://www.temanrakyat.id/aksi/piala-dunia-dan-keanehan-2018_5b21cac46b25413d82aa2f87.html

KIRIM EMAIL

Lihat aksi lainnya