Naikkan Batas Usia Pernikahan untuk Perempuan, Segera

Naikkan Batas Usia Pernikahan untuk Perempuan, Segera

Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan permohonan uji materi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1947 tentang Perkawinan. Bahkan, MK mengakui batas minimal usia pernikahan 16 tahun untuk perempuan yang tertuang dalam UU tersebut melanggar UUD 1945. Karena itu, MK meminta DPR untuk merevisi UU Perkawinan soal batas usia pernikahan anak lantaran Indonesia sudah masuk dalam kondisi “Darurat Perkawinan Anak.”

MK dalam hal ini memberi tenggat waktu maksimal selama tiga tahun kepada DPR dan pemerintah untuk meningkatkan batas minimal usia perkawinan anak, seperti dilansir BBC (14/12/2018).

Apa yang kami pikir

Teman Rakyat sangat mengapresiasi langkah MK. Sebab, sudah saatnya pernikahan dini menjadi perhatian serius untuk menyelamatkan generasi bangsa. Bukannya apa-apa, terutama untuk perempuan, pernikahan dini bisa menjadi sumber malapetaka dengan efek berantai.

Pertama, kesehatan. Kehamilan di usia dini bukanlah hal yang mudah dan cenderung berisiko tinggi. Salah satunya adalah ancaman bayi terlahir prematur dan bobot lahir yang rendah. Selain itu, bayi juga bisa mengalami masalah pada tumbuh kembang karena mengalami gangguan sejak lahir.

Kedua, psikologis. Mental yang belum siap untuk berumah tangga -- dan di saat bersamaan teman sebaya masih banyak yang bersekolah -- berpotensi membuat seorang ibu muda hasil pernikahan dini merasa terkucil dan terasing dari kehidupan sosial. Dalam waktu lama, perasaan ini akan tumbuh menjadi depresi, yang tentu saja tak sehat untuk pola pengasuhan anak. 

Ketiga, kesejahteraan. Di Indonesia, seorang perempuan yang menikah di usia 16 tahun, lebih-lebih di bawahnya, sebagian besar pasti mengalami putus sekolah. Hal ini didukung data BPS tahun 2015 yang menyebutkan bahwa pada 2015, sebanyak 91,12% anak perempuan di Indonesia yang menikah sebelum 18 tahun gagal menuntaskan pendidikan di jenjang SMA.

Dan apa pekerjaan yang bisa didapatkan oleh seorang ibu muda yang putus sekolah? Jawabannya adalah kerja rendahan.

Silang sengkarut pun belum berhenti sampai di situ, terlebih kalau perempuan dan pasangannya berasal dari keluarga menengah ke bawah. Kesejahteraan yang menurun drastis karena tak kunjung mendapat pekerjaan yang layak, biasanya berbanding lurus dengan munculnya masalah perceraian dan kekerasan dalam rumah tangga.

Karena itu, langkah menaikkan batas perkawinan perempuan dari 16 tahun ke 18 tahun dengan merevisi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1947 tentang Perkawinan, urgensinya tidak bisa ditawar-tawar lagi. DPR dan Pemerintah perlu bergerak cepat agar dampak buruk akibat pernikahan anak usia dini bisa diputus sesegera mungkin.

Bagaimana menurutmu, Teman? Yuk berikan komentarmu.

Langkah 1. teruskan dan beri komentar

teruskan dan beri komentar

Langkah 2. Salin di sini dan menangkan poin

Supporter's Comments

Aldo wrote: Menurut saya ini adalah kemenang kecil bagi para pembela perempuan dan anak, sebab dalam putusannya MK tidak bisa serta merta menaikan batas usia nikah bagi perempuan. Hal ini menjadi urgensi DPR dalam menaikan batas usia nikah bagi Perempuan. Oleh karena itu MK memberikan batas 3 tahun kepada DPR untuk menaikan batas usia nikah bagi perempuan. Akan tetapi dalam kurun 3 tahun masi akan ada praktik perkawinan anak di Indonesia dan tidak menutup kemungkinan jumlah pernikahan anak juga meningkat.
14-02-2019, 15:44
sindy wrote: sangat setuju dengan kebijakan ini Karena di lihat dari kesiapan fisik serta mental untuk menikah, 16 tahun masih terlalu dini.
14-02-2019, 15:43
Dewy wrote: Saya sangat setuju dengan kebijakan ini Karena di lihat dari kesiapan serta mental untuk menikah, maka usia 16 tahun ini sangat belum bahkan sangat tidak mungkin untuk menikah. Juga urusan pendidikan di mana rata-rata usia 16 tahun bukan usia yang telah lulus SMA. ini juga akan mempengaruhi kesejahteraan kehidupan rumah tangganya juga nanti. Akan sangat susah mendapatkan pekerjaan yang nantinya bisa membantu dalam membiayai kebutuhan diri sendiri dan keluarga
15-01-2019, 10:47
aisyah wrote: Saya sangat setuju. Karena saya juga beranggapan bahwa orang-orang yang melakukan pernikahan dini belum memiliki kesiapan baik fisik maupun mental. Dan juga dari segi pendidikan, kedua pasangan pastinya masih perlu mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi.
15-01-2019, 10:47
Novi Dwi Cahyono wrote: Teman Rakyat sangat mengapresiasi langkah MK. Sebab, sudah saatnya pernikahan dini menjadi perhatian serius untuk menyelamatkan generasi bangsa. Bukannya apa-apa, terutama untuk perempuan, pernikahan dini bisa menjadi sumber malapetaka dengan efek berantai. Pertama, kesehatan. Kehamilan di usia dini bukanlah hal yang mudah dan cenderung berisiko tinggi. Salah satunya adalah ancaman bayi terlahir prematur dan bobot lahir yang rendah. Selain itu, bayi juga bisa mengalami masalah pada tumbuh kembang karena mengalami gangguan sejak lahir. Kedua, psikologis. Mental yang belum siap untuk berumah tangga -- dan di saat bersamaan teman sebaya masih banyak yang bersekolah -- berpotensi membuat seorang ibu muda hasil pernikahan dini merasa terkucil dan terasing dari kehidupan sosial. Dalam waktu lama, perasaan ini akan tumbuh menjadi depresi, yang tentu saja tak sehat untuk pola pengasuhan anak. Ketiga, kesejahteraan. Di Indonesia, seorang perempuan yang menikah di usia 16 tahun, lebih-lebih di bawahnya, sebagian besar pasti mengalami putus sekolah. Hal ini didukung data BPS tahun 2015 yang menyebutkan bahwa pada 2015, sebanyak 91,12% anak perempuan di Indonesia yang menikah sebelum 18 tahun gagal menuntaskan pendidikan di jenjang SMA. Dan apa pekerjaan yang bisa didapatkan oleh seorang ibu muda yang putus sekolah? Jawabannya adalah kerja rendahan. Silang sengkarut pun belum berhenti sampai di situ, terlebih kalau perempuan dan pasangannya berasal dari keluarga menengah ke bawah. Kesejahteraan yang menurun drastis karena tak kunjung mendapat pekerjaan yang layak, biasanya berbanding lurus dengan munculnya masalah perceraian dan kekerasan dalam rumah tangga. Karena itu, langkah menaikkan batas perkawinan perempuan dari 16 tahun ke 18 tahun dengan merevisi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1947 tentang Perkawinan, urgensinya tidak bisa ditawar-tawar lagi. DPR dan Pemerintah perlu bergerak cepat agar dampak buruk akibat pernikahan anak usia dini bisa diputus sesegera mungkin.
15-01-2019, 10:46
Novi Dwi Cahyono wrote: Selain dari pada di atas, Pernikahan dini sangatlah merusak kecerdasan anak di masa mendatang, Di mana usia 16 tahun adalah masa di mana seseorang masih harus bersekolah,
15-01-2019, 10:45
Rusmaharani wrote: Menikah bukanlah keputusan yang main-main. Mengambil keputusan “ya saya menikah” berarti siap dengan segala konsekuensi setelahnya. Perempuan adalah calon ibu bagi anak-anaknya. Pendamping bagi suaminya, jembatan silaturahmi bagi keluarganya. Saat perempuan melahirkan seorang anak, dialah madrasah pertama bagi anak-anaknya, seorang pendidik, seorang pengatur ekonomi, seorang dokter, seorang sahabat bagi keluarganya nanti. Menjadi “multi-job” seperti itu seharusnya perempuan harus menyiapkan pengetahuan yang luas, kecerdasan emosional dan moral yang baik. Inilah mengapa pernikahan dini justru rentan mengalami masalah rumah tangga (tidak semua hanya mayoritas) karena umur seseorang juga mempengaruhi tingkat kedewasaan, emosional dan pola pikir. Mengalami masalah kesehatan (bisa jadi karena belum matangnya organ reproduksi ) Dengan menambah batas usia pernikahan, pemerintah telah memberikan solusi mengurangi kepadatan penduduk, mengurangi resiko kematian akibat melahirkan dini, serta memberikan kesempatan bagi para wanita untuk menimba ilmu lebih tinggi, memperbaiki moral, mempersiapkan mental menjadi wanita yang lebih baik. Menjadi calon istri yang baik bagi suaminya nanti dan ibu cerdas yang kelak melahirkan generasi emas.
15-01-2019, 10:44
Ida wrote: Setujunya Pake Banget. Dilihat dari segi negatif.a yg lbh banyak, maka kita harus bersama sama meminimalisirnya. Ibarat buah karbitan yg dipaksa masak, rasanya berbefa dengan buah yg jatuh sendiri karna kemasakannya. Rentan sekali terjadi perceraian di masa yg akan datang. Karna menikah tak sekedar butuh cinta
02-01-2019, 14:00
Sarah wrote: Sangat setuju, umur sangat mempengaruhi,mental yang masih perlu di latih, dan kesiapan untuk menjalani kehidupan selanjutnya, umur segitu mungkin cukup untuk berfikir kedepan dan menjadikan semua nya lebih baik
21-12-2018, 14:26
Ivana Alodia Philbertha wrote: Setuju bgt..!!! Karna usia 16thn organ reproduksinya belum matang, kan kasihan kl hamil banyak risiko bayinya bs lahir prematur, terus juga psikologi nya belum siap utk berumah tangga apalg punya anak, belum lagi usia 16thn kan masih SMA harusnya selesaikan pendidikannya dl, spy nanti punya karir bagus. Paling tidak usia perempuan nikah 21thn lah
21-12-2018, 14:26
Resa Efendi wrote: Sangat setuju. Karena apabila anak menikah diusia yang masih belum matang, si anak kemungkinan besar akan mengalami tekanan mental, dan belum siap untuk berkeluarga.
21-12-2018, 14:25
Malika Maharani Putri wrote: Sangat setuju karena dengan dinaikkan batas usia minimal akan memperkecil kemungkinan banyaknya kematian ibu ketika melahirkan karena kondisi tubuh belum siap, memperkecil kemungkinan KDRT dan perceraian karena secara mental lebih siap. Bahkan kalau bisa batas usia dinaikkan menjadi 21 tahun.
19-12-2018, 13:25
Azis wrote: Sangat setuju. Karena, umur juga menjadi salah satu faktor penting bagi berjalannya sebuah pernikahan yang bukan hanya sebatas keinginan semata melainkan kesiapan dalam berumah tangga.
19-12-2018, 13:25
Dea wrote: Sudah kewajiban kita untuk sama sama mencegah perkawinan anak.
19-12-2018, 13:23

Lihat aksi lainnya