Menimbang Ganja

Menimbang Ganja

Legalisasi mariyuana alias ganja selalu menjadi obrolan menarik di kalangan anak muda. Faktanya, dari tahun ke tahun memang semakin banyak negara atau wilayah di dunia yang melegalkan ganja.

Terakhir, negara bagian New York, Amerika Serikat, semakin dekat untuk melegalkan mariyuana. Gubernur New York Andrew Cuomo telah meminta laporan terkait ganja pada dinas kesehatan setempat, pada Januari 2018. Pekan lalu, laporan tersebut menyebutkan, “It has become less a question of whether to legalize but how to do so responsibly.

Di AS sendiri, kebijakan kontroversial ini dimulai dari negara bagian Colorado dan Washington yang melegalkannya pada 2012. Sejak saat itu, total ada 38 negara bagian (plus Washington D.C.) yang melegalkan ganja.

Sebanyak 29 negara bagian di antaranya hanya membolehkan mariyuana untuk kebutuhan medis. Sementara 9 negara bagian melegalkan sepenuhnya, termasuk untuk kebutuhan rekreasional. Artinya, ganja bahkan bisa dibeli bebas tanpa harus mendapatkannya melalui resep dokter.

Beberapa negara Eropa bahkan sudah lebih dulu melegalkan ganja. Sedikitnya kini ada 10 negara di dunia yang sudah melegalkan ganja, termasuk Belanda, Spanyol, Siprus, dan Italia.

Di Indonesia sendiri keberadaan ganja memang illegal sejak zaman kolonial Belanda, tepatnya pada 1927. Ganja kemudian dikategorikan sebagai narkotika golongan 1 dalam Undang-Undang No.35 tahun 2009.

Meski demikian, gelombang legalisasi mariyuana juga muncul di Indonesia. Setahun sebelum Colorado di AS melegalkannya, tercatat kelompok yang menamakan diri Legalisasi Ganja Nusantara menyerukan legalisasi ganja dengan aksi jalan kaki dari silang Monas ke Tugu Tani, Jakarta Pusat, Mei 2011. Para pendukung legalisasi ganja umumnya beralasan, mariyuana tak ubahnya minuman beralkohol. Meski memabukkan, mengonsumsi minuman beralkohol toh tak dikenai sanksi pidana.

Namun bisa jadi kontroversi terbesar terkait ganja adalah ketika Fidelis Ari di Kalimantan Barat, yang menggunakan ganja sebagai pengobatan untuk istrinya yang menderita kista tulang belakang, pada Maret 2017. Walau pada akhirnya sang istri meninggal, perdebatan soal legalisasi ganja saat itu semakin panas.

Tembok halangan terbesar legalisasi ganja di Indonesia bisa jadi datang dari pendapat agama. Islam, yang merupakan agama mayoritas negeri ini, mengharamkan ganja karena bersifat memabukkan. Setidaknya demikianlah pandangan mainstream ulama di Indonesia.

Artinya, penggunaan ganja secara legal di Tanah Air rupanya masih jauh panggang dari api. Jadi jangan kesenengan dulu deh. Tapi, bagaimana menurut kalian? Perlukan ganja dilegalkan?

Pilih jawabanmu

Menurutmu, perlukah ganja dilegalkan?

Lihat aksi lainnya