Di Balik Berubahnya Istilah "Pembantu" Menjadi "Pekerja Rumah Tangga"

Di Balik Berubahnya Istilah "Pembantu" Menjadi "Pekerja Rumah Tangga"

Untuk menyebut kata “pembantu” kepada orang yang bekerja di rumah-rumah untuk membereskan segala pekerjaan domestik – biasanya di rumah atau di apartemen orang kaya dan menengah atas – sebenarnya sah-sah saja. Pembantu, yang secara harafiah bisa diartikan orang yang membantu, bantu-bantu di rumah, sedikitpun tidak bermakna merendahkan. 

Akan tetapi, menurut beberapa aktivis dan LSM yang fokus dalam memperjuangkan hak-hak “pembantu”, kata ini sudah tidak representatif lagi. Alasannya, “pembantu” rentan disalahartikan, menjadi orang yang membantu dengan ikhlas, tanpa bayaran. Padahal, faktanya, “pembantu” secara sadar bekerja dan mencari nafkah.

Maka kemudian lahirlah istilah PRT yang merupakan singkatan dari Pekerja Rumah Tangga sekitar tahun 2010-an. Menurut Jaringan Nasional Advokasi PEKERJA Rumah Tangga (Jala PRT), penggantian kata “Pembantu” oleh “Pekerja” adalah simbol perjuangan untuk kesetaaraan PRT yang sangat rentan mengalami ketidakadilan. Begitu kata Siswati, salah satu pentolan Jala PRT dalam Women's March Jakarta 2018 silam (2/3/2018). 

 

Apa yang kami pikir

Teman Rakyat sepakat dengan pengubahan ini. Fenomena PRT yang mengalami ketidakadilan memang bukan hal baru di Indonesia. Hingga kini, tentu masih sering kita jumpai kabar terkait majikan yang semena-mena kepada PRT-nya, mulai dari gaji yang tak dibayar, kerja tanpa ada libur, sakit tetap disuruh kerja, hingga dipecat menjelang Hari Raya Lebaran dan tak diberi THR. 

Itu belum apa-apa, karena tak sedikit pula PRT yang mengalami tindak kekerasan baik secara fisik maupun verbal. Salah dua faktor yang mendorong itu terjadi adalah rendahnya daya tawar PRT. Kerap dianggap bukan pekerja terampil, PRT cukup digaji seadanya. Kerap dianggap cuma bantu-bantu, PRT digaji seikhlasknya. 

Padahal, bisa apa si majikan jika tidak ada PRT-nya? Kalau bisa mengurusi semua pekerjaan domestik, kenapa harus mempekerjakan PRT? 

Faktor kedua adalah adanya relasi kuasa atasan-bawahan yang timpang. Atasan atau majikan merasa lebih tinggi dibanding bawahan – PRT itu sendiri. Relasi ini menumbuhkan superioritas yang berujung pada tindakan diskriminatif. Tercermin misalnya pada pembedaan-pembedaan: tempat duduk, pakaian, hingga menu makan antara majikan dan PRT dibedakan dengan sengaja. 

Bahkan pembedaan seperti ini tidak hanya lahir dari majikan, parahnya juga institusi. Tidak sedikit peraturan apartemen di Jakarta memberlakukan, meski tidak tertullis, untuk melarang ART naik lift umum. Tempat mereka yang tepat adalah, lift barang! 

Lalu apakah pergantian istilah sudah cukup untuk mencegah terjadinya diskriminasi dan menghapus potensi kekerasan terhadap mereka? Tentu saja belum. Teman Rakyat berpendapat, untuk mewujudkan cita-cita tersebut, PRT perlu dilindungi payung hukum. Dengan kata lain, Undang-Undang Khusus yang mampu melindungi keseluruhan hak-hak PRT, agar mendapat kehidupan yang layak dan diperlakukan secara manusiawi.

Namun, bergantinya kata “pembantu” menjadi “pekerja”, setidaknya sudah menandai tumbuhnya kesadaran untuk memperjuangkan PRT agar lebih diakui, baik sebagai manusia maupun profesi. Dan ini baik! Kalau menurutmu, apa lagi yang diperlukan untuk memperjuangkan nasib PRT di Indonesia? 

 

Langkah 1. teruskan dan beri komentar

teruskan dan beri komentar

Langkah 2. Salin di sini dan menangkan poin

Supporter's Comments

Iqbal wrote: Setuju, PRT harus dilindungi seperti pekerjan yang lain. Itu adalah profesi yang mesti dihargai, bukan diperlakukan tidak manusiawi
21-02-2019, 12:20
Ubed wrote: Kalau bicara kesetaraan, saya amat setuju jika PRT harus juga mendapat perlakuan dan juga hak yg sama dg pekerja lainnya.. Namun juga ada banyak PRT yg direkrut bukan melalui penyalur tenagakerja artinya kesepakatan langsung dr PRT dg majikannya, inilah yang sulit dikontrol krn mereka tidak tau harus melapor pada siapa jika hak nya tidak dipenuhi dan juga banyak yang tidak berani melaporkan jika ada diskriminasi maupun perlakuan lain yang sebenarnya merugikan mereka (PRT).
23-01-2019, 11:34
reno wrote: Saya sangat setuju. Karna itu juga sangat menghormati PRT. Kata2 pembantu sangat jelek dimata masyarakat.
23-01-2019, 11:07
Kerina wrote: dengan berubahnya istilah pembantu mnjadi pekerja rumah tangga menggangkat harkat dan martabat orang yg bkerja sebagai PRT, dgan adanya kebijakan ini PRT merasa lebih dihargai sebagai seorang pekerja yg mncari nafkah, bukan sekedar membantu nmun diberi upah yg sesuai dgan pkerjaannya. Ada keseimbangn antra hak dan kwajiban yg diperoleh oleh PRT namun hal ini akn diperkuat apabla ada suatu kebijkn hukum atau UU yg mengatr secra tegas tntang perlindungan trhadap PRT bilamana mndapat perlakuan kekerasan baik secra fisik maupun psikis, tindakan pelecehan ,pemerkosaan , hingga pembunuhan. Hal ini akan memperkuat status pekerja rumah tangga dalam melindungi haknya.
02-01-2019, 14:00
Yumi wrote: Saya setuju jika PRT sebaiknya diberikan payung hukum. Karna jika dilihat indonesia mengalami adanya degradasi moral seperti mendiskriminasi. Juga pembedaan kasta dari profesi. Ini sangat tidak manusiawi. Harus ada instrumen hukum tentang kasus seperti ini.
02-01-2019, 13:59
Gisela wrote: Selain adanya penggantian nama, ada baiknya jika PRT memiliki aturan kerja dan memiiki hak perlindungan yang sama dengan pekerjaan lainnya dan diawasi keberadaannya oleh kemanaker beserta mitra. Mungkin dengan adanya perjanjian kontrak antara pekerja dan majikan dapat mengurangi kesenjangan serta ketidakadilan yang dihadapi PRT. Seperti terteranya jam kerja per minggu/per hari. Waktu libur, gaji&tunjangan, dsb. Harapannya jika di kemudian hari ditemukan kecurangan atau ketidaksesuaian dengan kontrak perjanjian maka PRT memiliki hak untuk menuntutnya.
02-01-2019, 13:57
Ulil wrote: Dalam Islam pun ada istilah ijarah (bisnis rental barang atau jasa) yang mana orang berjasa meski tanpa kontrak layak mendapatkan bayaran setimpal (ujroh mitsil). Artinya, manusia merdeka tak boleh dieksploitasi secara amanusiawi. Satu lagi, dalam perbudakan Islam (sudah dihapus sih realitanya) ada kewajiban bagi tuan untuk mengayomi dan menafkahi budaknya. Saya mendukung wacana ini.
02-01-2019, 13:54
Sindy wrote: Terkadang, kita kurang memahami betapa berpengaruhnya makna dari sebuah kata. Maka, kita mulai dari hal ini terlebih dahulu..
02-01-2019, 13:54
Gojie wrote: Terkadang perubahan tersebut tidak berarti apa2 di mata masyarakat. Harus kembali lagi ke sudut pandang masing2. Seorang PRT/ART akan dipandang dari penampilannya terlebih dahulu. Kemudian baru sikap dan perilaku.
02-01-2019, 13:54

Lihat aksi lainnya