Aparat dan Media, Masih Tak Peduli Perempuan

Aparat dan Media, Masih Tak Peduli Perempuan

Akhir pekan di awal Januari 2019 heboh dengan penggerebekan kasus prostitusi. Yang membuatnya menjadi pusat perhatian sejak awal adalah dugaan pekerja seks komersial berasal dari kalangan pesohor dengan bayaran yang fantastis.

Entah bagaimana awalnya, namun inisial selebriti yang terlibat dalam sekejap terbuka menjadi nama lengkap. Tak lama kemudian, media pun ramai-ramai “menelanjangi” profil sang artis.

Padahal menurut Guru Besar Hukum Acara Pidana dari Universitas Jenderal Soedirman Hibnu Nugroho, polisi seharusnya lebih ketat lagi melindungi identitas terduga PSK. Hal itu sesuai dengan prinsip perlindungan hak asasi manusia dan bagian dari asas praduga tak bersalah.

“Ini, kan, masih dalam penyelidikan, sebagai bentuk perlindungan hak asasi manusia mestinya disebut inisial,” kata Hibnu kepada Tirto.id.

Apa yang kami pikir

Perempuan memang masih ditempatkan sebagai objek di hampir setiap kasus prostitusi muncul ke permukaan di negeri ini. Sebagian besar media dengan gegap-gempita membahas seputar terduga PSK yang kebetulan artis ternama.

Bahkan polisi yang seharusnya lebih sadar hukum, juga tidak mampu menjaga hak asasi individu yang diduga terlibat, kalau bukan lalai.

Ingat, kasus ini masih dalam tahap penyelidikan. Sebelum palu persidangan diketuk menyatakan siapa yang bersalah, semua yang diduga terlibat berhak mendapatkan perlakuan praduga tak bersalah.

Dengan intensnya pemberitaan seputar dua perempuan sebagai terduga penjaja seks, masyarakat sudah langsung menghujat, menertawakan, dan membahas panjang lebar. Maklum, latar belakang agama dan rendahnya kesadaran hukum masyarakat memang tak sulit menebak hal itu bakal terjadi.

Pertanyaannya adalah, bagaimana kalau hasil persidangan menyatakan si artis tak terbukti menjajakan diri?

Apalagi bila pada saatnya nanti dinyatakan tak ada praktik prostitusi dalam kasus ini. Apa yang bisa dilakukan polisi, atau media, untuk mengembalikan reputasi yang kadung hancur? Apa yang bisa dilakukan penegak hukum dan media untuk menyembuhkan luka batin yang kadung terjadi akibat tekanan sosial selama kasus berjalan?

Bahkan kalaupun terbukti mendapatkan bayaran untuk layanan seks, tak ada aturan yang dilanggar si artis. Karena Kitab Undang-undang Hukum Pidana menempatkan PSK sebagai korban. Bukan pelaku kejahatan.

Pernahkah polisi dan pemilik media mempertimbangkan hal itu? Pedulikah polisi dan media saat perlakuan mereka jelas-jelas merupakan kekerasan terhadap perempuan?

Langkah 1. teruskan dan beri komentar

teruskan dan beri komentar

Langkah 2. Salin di sini dan menangkan poin

Supporter's Comments

Bella wrote: Menurutku. Meskipun Polisi maupun pihak tertentu yang menangani kasus sudah menutup rapat masalah itu tapi dikarenakan yang terlibat adalah selebritis atau orang ternama maka secara gak langsung semua media massa maupun masyarakat dapat melakukan investigasi sendiri dimulai dari media sosial selebritis maupun akun-akun gosip yang sudah membuka masalah itu secara terang" an. Diberita pun sudah tertulis jelas bahwa masih dilakukan penyelidikan tetapi masyarakat sudah menganggap nya sebagai pelaku.menurut ku polisi juga sudah melakukan yang terbaik sih cuma warganya aja yang selalu ingin tau.
08-04-2019, 14:46
sir.esc12 wrote: Persoalan utama di negeri kita yang tercinta ini untuk "Perempuan" meletakkan doi sebagai objek, dan mengakarnya pola pikir dan tingkah laku yang "Patriarkal". dan itu bukan hanya media dan polisi saja, Semmuuuaaa... yah... kamu juga !
08-04-2019, 14:41
Iyan linggau wrote: Oke
21-03-2019, 17:37
Salsa wrote: Lumayan setuju dengan pendapat bahwa perempuan adalah korbannya, namun tidak dalam semua permasalahan seperti ini perempuan selalu menjadi korban , bisa saja dalam konteks ini antara kedua belah pihak sama-sama setuju .seharusnya pihak polisi dan media sosial lebih lanjut menyelidiki sebelum menyebarkan ,
29-01-2019, 10:35
Karaenk Ibhel wrote: Apa yg dikupas diatas adalah hal yang patut di pertimbangkan jika selama ybs masih dlm proses penyelidikan dan belum jatuh vonis, krn mmg sngat perlu utk mnjaga hak dan identitas seseorang slama masih praduga tak bersalah.. Beda hal nya jika mmg sdh fiks mnjadi terdakwa , sy pribadi tdk masalah jika itu fulgar. Hal ini bs mnjadi efek pmbelajaran sosial bagi kita semua jika mnjadi seorang publik figur itu bwrat krn sdikit banyaknya akan mnjadi contoh bagi masyrakat, mk pwrlu sikap dan perilaku yang baik..
29-01-2019, 10:24
Ubed wrote: Entah mengapa saya merasa keberatan ya kalo psk itu ditempatkan sebagai korban, meskipun banyak juga diluaran sana para psk ini memang korban dr perdagangan manusia namun juga hal ini tidak bisa digeneralisir karena banyak juga PSK yang secara sengaja dan sadar menjual diri mereka untuk mendapatkan uang dan merekalah yg sebenarnya tidak bisa dikatakan sebagai korban. Namun begitu saya tetap setuju jika belum diptuskan bersalah dipengadilan maka polisi harus menutupi identitas mereka
23-01-2019, 11:33
Syahrullah wrote: Dalam benak saya masih terlintas dua prasangka antara setuju dengan tidak. Apalah fungsi media jika tidak mengbongkar kasus seperti ini. Bukankah kejadian seperti ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua untuk lebih berhati-hati. Sisi lain. Ketika tindakan yang dilakukan polisi atau media bertentangan dengan HAM dan asa praduka tak bersalah. Dan karena ini adalah hukum. Aturan yang seharusnya menjadi refersensi seorang bertindak. Maka saya setuju dengan opini diatas. Dan menjadi tidak setuju karena yg dilakukan polisi dan media menjadi renungan si pelaku atau masyarakat, untuk lebih berhati-hati. Jika sudah demikian, maka timbullah pertanyaan. Apakah kasus ini bisa menjadi catatan seorang DPR untuk memperbaiki aturan yang berlaku diindonesia, dengan pertimbangan HAM dan Praduga tak bersalah
15-01-2019, 10:44
Sindy wrote: Sebenarnya itu sudah ranah privasi.. kecuali dia secara terbuka menunjukkan.
15-01-2019, 10:43
Zubaer wrote: Kalo masalah hukum harusnya d tingkatkan karena PSK itu mempermudah orang untuk berzina sehingga patut di hukum Kalau masalah menghujat harusnya tidak dilakukan. Lebih baik mendoakannya supaya cepat berhenti dan bertaubat
15-01-2019, 10:43

Lihat aksi lainnya